Duh, klasik.
Saya kembali ke ground zero. Setelah sekian lama saya seringkali menolak istilah " ignorance is a bliss " karena menurut saya ignorance itu bentuk ketidakpedulian destruktif dan tidak menyelesaikan masalah. Dan balik lagi, dari dulu saya ini emang sering dimarahi orangtua karena terlalu perasa. Lebih baik sakit hati sendiri daripada bikin orang lain sakit hati. Odong. Untungnya hal yang sama g terjadi kalau konteks-nya kerjaan. Saya betul-betul harus berubah. Dengan kondisi di rumah berlima dengan teman-teman yang karakternya beda-beda (bedanya kadang sampai bikin dyspnea), peduli nampaknya malah jadi destruktif. Atau bukan peduli-nya yang salah, tapi kadarnya. Mungkin juga ini terkait bagaimana saya memposisikan diri, atau diposisikan oleh teman-teman yang lain. Saya mendengar terlalu banyak hal, merasa ditarik kanan-kiri. Dan kalau menurut saya ini bukan hal yang terlalu saya harus lawan (g prinsip buat diintervensi maksudnya) yaudah saya terim...