Postingan

Menampilkan postingan dengan label Internsip

Embracing Buton; A Prelude

Gambar
Embrace: encircle, enclose, cherish, love, to take in or include as a part of more inclusive whole, a close encircling with the arms and pressure to the chest especially as a sign of affection, encirclement, and... acceptance. Belakangan ini sering sekali adventuring sekitar Buton. Hmm, sebenernya kata adventure mgkn g tepat kali ya -,- soalnya jenis kegiatannya banyak. Kira-kira sebulan terakhir  ini saya memutuskan buat fokus nulis lagi (yang bukan sekedar curhat tentu), dan "hey, kenapa g nulis tentang Buton?". Sebenernya udh kepikiran dari lama, cuma untuk menggerakkan jari-jari di atas tuts keyboard laptop ituuuu hm gimana yaa *ahaha banyak alesan ya -,- Nah, sekarang mau dicoba pelan-pelan buat konsisten nulis tentang Buton. Kapan lagi coba saya ada di bagian tengah-timur Indonesia. The farthest place, and the longest time I've ever been away from home. Pengalaman ini, buat saya sangat berharga. Kalau gollum bilang, my precioussss *sambilmendesis *...

Duh, klasik.

Saya kembali ke ground zero.  Setelah sekian lama saya seringkali menolak istilah " ignorance is a bliss " karena menurut saya ignorance itu bentuk ketidakpedulian destruktif dan tidak menyelesaikan masalah. Dan balik lagi, dari dulu saya ini emang sering dimarahi orangtua karena terlalu perasa. Lebih baik sakit hati sendiri daripada bikin orang lain sakit hati.  Odong.  Untungnya hal yang sama g terjadi kalau konteks-nya kerjaan.  Saya betul-betul harus berubah. Dengan kondisi di rumah berlima dengan teman-teman yang karakternya beda-beda (bedanya kadang sampai bikin dyspnea), peduli nampaknya malah jadi destruktif. Atau bukan peduli-nya yang salah, tapi kadarnya. Mungkin juga ini terkait bagaimana saya memposisikan diri, atau diposisikan oleh teman-teman yang lain. Saya mendengar terlalu banyak hal, merasa ditarik kanan-kiri. Dan kalau menurut saya ini bukan hal yang terlalu saya harus lawan (g prinsip buat diintervensi maksudnya) yaudah saya terim...

Bau-Bau's interns.

Gambar
dr. Livy - dr. Yafidy - dr. Cindya - dr. Deddy - dr. Fulki

Bulan 1

Sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas di kepala, di tahun 2014 saya akan ada disini; kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, menjalani kehidupan (baru) sebagai dokter umum dalam program internship untuk 1 tahun ke depan. Kalau kutip istilah teman, itulah cantiknya takdir Allah. Disini sudah masuk bulan ke-2 penempatan. Suka-nya banyak, duka-nya terkadang lebih banyak. :) Apalagi disini saya tinggal bersama 4 orang dokter baru lainnya. Semua sahabat saya. Tapi ternyata hidup bersama itu butuh lebih dari sekedar sahabat atau bukan, cocok atau tidak. Terlalu banyak potensi masalah. Etta (ayah) saya selalu bilang, jadi muslim itu harus gembira. Tidak ada yang perlu disedihkan, buat apa. Apalagi kalau kontra-produktif. Bunda bilang, fokus saja pada hal yang prinsip, jangan terjebak dengan hal-hal kecil tidak prinsip yang justru menghambat jalan. Akhirnya setelah fase mellow beberapa hari kebelakang, karena banyaknya hal yang harus dilakukan, terlalu banyak perasaan orang yang...

Day Zero!

Saya tulis ini kira-kira 20 hari yang lalu. Kalo perlu ngasih lima jempol buat pegawai telkom di kota Bau-Bau yang susah-susah (iya sih emang kerjaan mereka ini) pasang gimana caranya supaya di rumah dinas kami yang kiyut ini ada internet. Hasil nunggu kurang lebih 3 minggu dari awal pasang speedy baru bisa dipetik hasilnya hari ini. Dengan resmi saya umumkan bahwaaa internet jalan! Hore! :)  Berikut postingan tidak kadaluarsa ini: --- “And baby, it’s amazing I’m in this maze with you. I just can’t crack your code.” – Holy Grail, Jay-Z. Sudah kurang lebih 10 hari berada di sini. Ya, saya menjadi dokter internsip di kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Semua naik turun proses persiapan internsip sudah dijalani. Maju mundur internsip di luar pulau jawa, urus-urus segala tetek bengek administrasi (yang dengan senang hati untuk tidak diulangi), packing barang untuk satu tahun, urus cargo, dan hari keberang...