Minggu, 06 Desember 2015

Challenges to confront with...

“Inevitably, if we are to grow and change as adults, we must gradually learn to confront the challenges, paradoxes, problems and painful reality of an insecure world.”

What is so different with being an adult?

Islam mengajarkan bahwa paska akil-baligh, tiap manusia diberikan buku amalannya sendiri, bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Tapi kadang (dan mungkin semakin kesini nampaknya mayoritas), kedewasaan fisik tidak selalu diikuti dengan kematangan mental-spiritual. 

Menginjak usia diatas kepala 2, terutama setelah lulus dokter, hal yang paling #warbiyaza life changing buat saya (despite of being married ^^) adalah how to face, lebih tepatnya confront mungkin ya, problems. Kalau coba retrospect, dulu rasanya jaman sma&mahasiswa kaya yg banyaaak bgt problems, padahal g ada apa2nya ya sama sekarang :)))

P.r.o.b.l.e.m.SSSSSSS (with as much S as I can put)

Terutama terkait dengan pekerjaan sebagai dokter. We are being responsible literally for kelangsungan hidup seseorang (secara syari'at, hakikatnya mah teuteeuuup hidup mati sehat sakit mah hak Allah ya). Being pointed out or being accused of something either you do it or don't is like daily challenge. Belum lagi kalau cara dan etika penyampaiannya g enak. 

Pengen lari atau sembunyi, tapi the real problem is actually not in solving it (solving is the next big thing of course), but first thing first is to FACE it, to CONFRONT it. Untuk gak ciut duluan dengan masalah. To be professional, still. Karena kadang, dan seringnya, teman-rekan kerja, tempat kerja, bisa jadi super tega dan 'jahat' sama kita. Tapi ya tadi, being an adult is how to confront challenges and problems. 

Kadang juga kita udah ngerasa bersalah dan g enakan duluan, tapi ternyata pihak yang bersangkutan malah g ada masalah. Kalo udah perkara ini, intinya emang cuma komunikasi. Try to face, confront, and communicate your problems, or what you think is a problem. 

It takes a big step of bravery, ya know.
And while we deal with it, maturity process is taking it course along the way.

Ahhhhh semangaaaattt!
After these long days of challenges, confrontation, and lotsa problem, not to mention patient to dealjust so we know that we can always come home. :)

And suddenly I miss my husband....

Senin, 11 Mei 2015

Dolce Far Niente

Dolce Far Niente is a well known old italian expression, which means, the feeling of pleasant in doing nothing. I read it first in “Eat, Pray, Love” the novel. When the suddenly-collapse-and disoriented life of Elizabeth GIllbert made her flew around the world from US to three distinctive country, one of them is Italy. To find peace, she said, to find grip onto life, she chose the extreme way, flew away and find new place to rebuild the conscience.
(Terus aku lanjut pake bahasa indonesia aja gitu, ahaha maaf ya, lebih enak nulis dengan bahasa ibu memang)
Dolce Far Niente konteks di novelnya sebenernya mengacu pada analisis komparasi Gilbert tentang kondisi itali vs amerika. Orang amerika katanya g bisa berada dalam kondisi idle, dan justru mendapat kebahagiaan dari kondisi tekanan kerja, kerja terus sampai kondisi kelelahan dan di weekend akhirnya mereka terlalu lelah untuk bisa ngapa-ngapain dan endup dengan siklus tidur-nonton tv, yang semuanya dilakukan dalam keadaan mild coma alias impaired consciousness *ini gue banget kalo abis jaga*. ahaha. but turns out, it what makes them happy, to working their *ss of like that. makanya banyak orang pengangguran yang stress.
Okay enough about american, ini cuma ngutip phrase-nya aja. Nah, lanjut lagi, dolce far niente ini harusnya leads to l’arte d’arrangiarsi – the art of making something out of nothing. (Terus orang makin bingung sebenernya aku mau ngomong apa ahaha)
Untuk orang yang terbiasa dengan pace hidup cepat, ritme kerja dengan deadline, tekanan tinggi, dan tiba-tiba jreng~ being idle dan penuh dengan waktu kosong (bukan dalam konteks pengangguran, tapi terbebas dari kerja 8-4 atau jam jaga malam padat merayap) yang bebas mengatur waktu sendiri, its a tough adaptation. and if I may say, quite depressing at first. Even more depressing than when I was in Baubau.
To make something out of nothing~ bagaimana mengatur jadwal se PRODUKTIF mungkin, dan bisa mandiri, artinya, (karena kita tidak berada dalam kondisi kerja kantoran yang diawasi ketat dan memang kontraknya antara pekerja dan perusahaan), kontrak ini terjadi antara kita dan……kita sendiri (tentu diawasi Allah yang Maha Melihat dan malaikat yang mencatat). Ini mainnya mental, sekuat apa kita mengalahkan kita sendiri untuk bisa disiplin terhadap rencana-rencana kita sendiri.
Two side of a blade banget ya. Sebenernya kita bisa lebih produktif dan merencanakan segala program dan pengembangan diri sesuai yang kita harapkan, tapi kalau g disiplin dan manajemennya g baik, malah akan jadi sia-sia dan kita akan semakin tenggelam dengan that depressing state. Being emotionally unstable when the only one to blame is actually, yourself.
Mungkin ini yang terjadi awalnya pada full-time housewives or working at home mother, dan sejenisnya.
But the very first phase you have to work it out is, still, acceptance and gratitude. Untuk bersyukur terhadap semua kondisi yang Allah tetapkan atas kita sekarang ini, menerima dengan ikhlas, dan pada akhirnya memprosesnya menjadi karya yang tidak kalah hebat.
I’m still working on it though. Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, … hidup sebelum mati.
Bismillahi tawwakaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Rabu, 15 April 2015

Moving on *bumbumjes

Assalamualaikum wr wb. Halo semuanyaa :)
Ini sebenernya cuma brief info aja, sekarang fulki coba untuk pindah ke fulkifadhila.wordpress.com, alasannya bisa dibaca di post pertama di blog yang baru.

Do'akan ya, kalau memang konsisten nulis dan memang kemampuan nulis fulki berkembang, rencananya ntar mau bikin fulkifadhila.com (hadiah buat diri sendiri HANYA JIKA konsisten nulis), salah satu alasan kenapa pindah ke wordpress.

See you here --> fulkifadhila.wordpress.com

Sabtu, 03 Januari 2015

Years of struggle

"One day in retrospect, the years of struggle will strike you as the most beautiful."

2 Januari 2015, 11 Rabiul Awal 1436 H

Besok harus hiking dan sekarang masih on ngerjain tugas medicuss dan masih agak teler post jaga (tepar yaAllah)

Kemarin saya jaga di klinik rancamanyar, masyaAllah pasiennya banyak banget sampe hampir 100. Rasanya? Sendi tangan sama kaki kaya mau putus dan badan saya sakit-sakit. Masalahnya disana g ada perawat jd semua kita kerjain sendiri. Pas pulang jam 9 pagi saya sampe ketiduran terus kebawa sama angkot -,-

Pasiennya pun aneh-aneh, ada pasien remaja kena petasan meledak di tangan yang harus saya sambung jari jempolnya dateng jam 11 malem. Hati rasanya ingin ngamuk "nanaonan maneh nyiksa diri sorangan atuh!" tapi akhirnya cuma bisa senyum2 mesem dan minta anaknya banyak bersyukur, karena biasanya orang kena petasan tangannya bisa sampe lepas dan dia cuma hampir lepas. 

Kehidupan pasca internsip upside down sekali. Sambil tunggu STR sementara jaga klinik dan ngajar di Medicuss. Setidaknya sampai bulan februari awal sampai setelah semua syarat untuk melamar kerja di RS dipenuhi (minimal ACLS dan STR). 

Banyak harus bebersih diri, bebersih keluarga, bebersih lingkungan
Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran

Hore akhirnya nulis lagi :"