Senin, 05 Mei 2014

My Travel Kit: Red Is A New Black :D

In some subway heading to I don't know *ehehe pikun*
Stepped on Great Wall Big Bricks :D
Ini dua barang yang saya suka banget, dan kalau travelling ke-ma-na-pun pasti di ajak. Kalau bisa dibilang ini namanya barang wajib travelling. Hehe...


Yang ini statusnya udah kaya karung. Apa aja masuk. Saya sampe keliling2 tempat jualan jansport buat cari yang warna merah begini soalnya stocknya cepet abis. Emang pasaran dan banyak yg suka kali yaa hehe.

Jaman dulu mungkin saya masih pake macem2 body pack dan eiger, tapi warnanya item doang jd bosen dn gak catchy. Kaya bapak-bapak. Yang ini berasa lebih anak muda dan warnanya saya syukaaa!


Ini sepatu paling peweee yang saya punya. tapi sekarang udah belel dan jelek banget gara2 dibawa ke Bau-Bau dan dipake buat segala jenis aktivitas. Orang yang pernah backpacking atau jalan sama saya biasanya suka ngatain saya urat cape di kakinya udah putus. Jalaaan terus seharian juga kuat. Mungkin gara-gara sepatu ini juga kali ya. Emang enak dan empuk banget banget :" 

Merk-nya sketchers, banyak booth-nya di mall-mall atau dimanapun. Aseliii enak banget buat jalan. Warnanya juga saya suka. Akhirnya sering banget saya foto-foto kaki *doang* di berbagai tempat yang dikunjungi. Hihihi kakiku narsis :/

Dadaaaah udah mayeeem ikan bobo yaa 

Embracing Buton #4: Ketinggalan Kapal & Pelabuhan Murhum

Suasana pagi di salah satu sisi Pelabuhan Murhum


Pelabuhan Murhum ini sebenernya healing period et causa ketinggalan kapal. Hiks. 

Ini kejadian yang mungkin agak traumatis dan sangat membekas ahaha, karena ini kali kedua saya ketinggalan kendaraan. Yang pertama pas backpacking ke jogja ketinggalan kereta gara2 tanri dkk yang miss koordinasi, tapi untungnya bisa dikejar dengan nyambung kereta karena waktu keberangkatannya g jauh beda.

Nah, kalau kapal?
Sekali ketinggalan kapal telatnya bisa 6 jam. Itu termasuk cepat. Ada yang bisa berhari-hari atau bahkan mingguan, misalnya kapal ke makassar. Kalau telat ya tinggal gigit jari. 

Sebelumnya saya dn teman2 berencana ke Pulau Muna. Disana (kata koran) ada festival kebudayaan keraton se-Nusantara gitu, tampak menarik akhirnya rencana kesana beli tiket. Perjalanan ke Muna harus naik kapal super jet Cantika Express. Sehari berangkat dua kali, jam 7.30 dan jam 13.00 WITA. Biaya sekali jalan ke Pulau Muna Rp 108.000,- Karena malamnya jaga, jadi rencana dalam sehari pulang-pergi. Hanya 6 jam di Muna, tapi tetep excited!

Kapal Cantika merah mentereng macem film kartun cars :)))


Hari sebelumnya saya jaga malam, jadi baru bisa pulang ke rumah sekitar jam 6 pagi, terus masak dulu. Karena ongkosnya mahal jadi niat bawa bekal makanan dari rumah. Pokoknya pagi-pagi ini epik. Banyak yang dikerjain dan waktu mepet, ditambah lagi salah prediksi waktu. Belum lagi kompromi dengan teman2 perjalanan. *gigittembok*

Jadinya, baru berangkat jam 7.30 dari rumah dengan estimasi kapal berangkat jam 7.45. Ternyata pas masih di jalan di dalem taksi kami ditelfon teman yang berangkat dengan kapal yang sama kalau kapalnya udah berangkat. Masih g percaya, akhirnya kami tetap ke pelabuhan. Dan disana pelabuhan udah kosong melompong. Hampa, nyesek. Kaya hati saya karena ditinggalin kapal. *eaaa naon*

Lihatlah muka-muka post ketinggalan kapal di bawah ini: 




           


Our face is a very transparent neurotransmitter for feelings we have inside :p
tapi ini pas udah face acceptance sih hehe

Kalau kata personality test, toleransi saya terhadap kegagalan itu rendah. Karena saya selalu percaya batas optimal-maksimal itu selalu bisa di boost asalkan punya determinasi. Dan ketinggalan kapal itu (keliatannya kecil), tapi jadi teguran bagi saya bahwa prosesnya saya lalai. dan emang super persiapannya butuh di evaluasi. Hiks.

Akhirnya saya wandering around. Menenangkan diri ceritanya biar g sedih. Untungnya saya ini terbiasa untuk menahan diri kalau lagi mau marah. Kadang agak jadi blunder juga soalnya malah jd g bisa responsive. Tapi dalam beberapa kondisi menurut saya ini perlu. Karena kalau perasaan g ditahan itu, ujung-ujungnya pasti mau marah, atau sejelek-jeleknya adalah nyalahin orang. Terus udah gitu nyesel. Ah jadi panjang, malesin tapi g solutif.

Defense mechanism yang paling infantile menurut saya adalah proyeksi. Kaya anak-anak kan, "ade kenapa begini?" "iya bu, itu mah gara-gara si a, b, c, d". Kadang-kadang alam bawah sadar saya juga sering sekali menggiring saya menjadi proyeksi. Terutama kalau sedang merasa tersudut, ehehe.

Sambil keliling-keliling bawa kamera, saya coba cari pengalih fokus di kapal-kapal yang ada di pelabuhan Murhum. Pelabuhannya guedeeee. Jadi, kota Bau-Bau ini merupakan pusat perdagangan dan distribusi barang dari dan ke Indonesia TImur.


Kapal entah apa tapi keren banget. Muncungnya itu lohh!




Kapal Kargo
Ada banyak sekali kapal dengan berbagai bentuk yang berasal dan menuju tempat yang beda-beda. Ada yang ke Wakatobi, Makassar,  Maluku, dsb. Kapal kargo juga buanyaakk. Hal yang g pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa ada saat dimana saya ngepost tentang: FULKI alias KAPAL. Di Bandung kapaaan coba liat kapal -,-.

Ini adalah kapal yang bisa dipake kalau mau ke Maluku. Tapi harus transit dulu dan ganti kapal di satu tempat dulu katanya (lupa namanya, hehe). Di kapal ini semua harus bisa masuk, bahkan motorpun ada. Saya nekat dan masuk ke dalem kapal buat liat-liat. 

Kapal Menuju Indonesia Timur
Ruang Mesin Kapal
Tempat Tidur Penumpang kelas 2, bayangkan yang kelas 3-nya :(


Di depan pintu masuk kapal. Kecil banget -,-

Setelah selesai menghibur diri, akhirnya kami jalan ke KFC, cari AC buat ngadem sekaligus makan pagi. Sambil merencanakan plan B tentunya hehe. Dan Alhamdulillah, plan B berjalan sangat menyenangkan. A blessing in disguise part sekian sekian :)

Lesson learned: Mengendalikan perasaan. Kita diberikan kesempatan untuk merasakan dua jenis perasaan baik itu senang atau sedih untuk belajar. Diberi senang terus akan membuat kita jadi takabur dan lemah kendali, sedangkan diberi sedih terus akan membuat kita jadi minim harap dan kerdil hati. Dalam silih berganti rasa yang datang, kita diajar untuk bisa menghadapi keduanya. Sampai tau titik seimbangnya dimana. Semua rasa senang dan sedih, dinikmati saja. Kalau kata Ipang “sedih itu hanya sebentar saja”.  Senang-pun begitu. Dia yang menang adalah dia yang bisa mengendalikan dirinya sendiri. We fail first in thought, and next in action kalau kata buku psikiatri.


Our plan B is: Pulau Makassar, yippie! Please wait for Embracing Buton #5 :D 

Sabtu, 03 Mei 2014

Embracing Buton #3: Lasalimu Pantai.

We travel not to escape life. But for life not to escape us.” -NN

Di tengah kesibukan dan kejenuhan yang sempat melanda selama menjalani rutinitas profesi dokter, saya, Deddy, dan teman-teman dari SGI (baca di Embracing Buton #2 tentang SGI) berkesempatan untuk melakukan petualangan ke daerah Kabupaten Buton, tepatnya Desa Lasalimu Pantai.

Kami berangkat menggunakan mobil travel sewaan, dengan biaya 35ribu per orang. Perjalanan menuju Lasalimu Pantai memakan waktu kira-kira 4 hingga 5 jam. Tentu ini tergantung kecepatan supir mobil travelnya, hehe. Akan tetapi tenang saja, kondisi jalan sudah sangat bagus dan pemandangan di kanan-kiri selama perjalanan juga memanjakan mata. Perjalanan menjadi tidak terasa ^^.

Rumah Jabatan Bupati Buton

Letter Buton 

Perjalanan saya menuju Lasalimu Pantai memakan waktu yang lebih lama dari seharusnya, karena tentu saja: banyak transit. Mulai dari foto-foto di letter Buton dekat Rumah Jabatan Bupati, Pantai Pasir Hitam, dan yang tidak boleh dilewatkan adalah istirahat makan di rumah makan daerah Wa Ko Ko. Tempat ini menjadi tempat transit semua supir kendaraan travel jalur kota Bau-Bau - Pasar Wajo - Lasalimu. Dalam perjalanan juga kita bisa melihat ada yang dinamakan dengan bukit teletubbies, yaitu padang rumput hijau luas dan berbukit yang menyerupai bukit di film anak-anak teletubbies. Hihihi, setiap membayangkannya saya jadi senyum sendiri. Lucu sekali :)


Run Fulki Run!
Di Pantai Pasir Hitam

Sesampainya di Desa Lasalimu Pantai sekitar jam 5 sore, saya langsung melakukan orientasi medan (dan sambil narsis tentu hehe). Kami berjalan ke arah Perkampungan Suku Bajoe yang terletak di area dermaga. Suku Bajoe atau biasa dikenal dengan Suku Laut Bajoe merupakan Suku yang poros kehidupannya berputar di Laut. Laut menjadi bagian dari jati diri Suku Bajoe. Coba baca tentang suku Bajoe disini.

Sesampainya disana saya masuk dan berkeliling di perkampungan suku Bajoe. Rumah disana merupakan rumah panggung yang tinggi-tinggi dengan beberapa rumah masih berdinding anyaman bilik. Karena rumah mereka tinggi dan langsung berhubungan dengan air laut di bagian bawah, biasanya terdapat minimal satu perahu kecil yang diparkir dibawah rumah untuk menangkap ikan. Mereka juga punya bangunan seperti saung kecil bentuk panggung tinggi yang ada di pinggir laut dan berhubungan langsung dengan rumah. Bangunan kecil ini digunakan untuk menjaring ikan. Ikan yang ditangkap kemudian akan dibawa ke kota Bau-Bau untuk dijual. Ukuran ikannya pun fantastis, biasanya ikan-ikan besar yang ditangkap disana.









Ketika langit sudah hampir gelap dan kami sudah puas berkeliling, melihat-lihat dan narsis (sedikit), saatnya untuk pulang. Walaupun ada beberapa wisma yang bisa dijadikan pilihan tempat tinggal, kami memilih untuk tinggal di rumah warga. Hal terbaik dalam melakukan travelling adalah bagaimana caranya bisa menyatu dengan masyarakat asli di daerah tersebut. Caranya adalah dengan tinggal dan melebur dalam aktivitas keseharian penduduk setempat.

Selepas maghrib, teman saya dari Sekolah Guru Indonesia yang bertugas di lasalimu biasanya mengumpulkan anak-anak suku Bajo untuk mengaji. Akan tetapi pada hari itu, kegiatannya agak berbeda. Anak-anak melakukan pertunjukan pentas seni berkelompok dan kemudian dinilai. Lucu sekali melihat anak-anak dengan banyak tingkah, gaya, dan keisengan mereka melakukan pertunjukan di atas ‘panggung buatan’ yaitu teras rumah panggung. Hehe.



Malamnya seperti biasa, panggilan dokter! Ternyata di Desa Lasalimu Pantai tidak ada dokter sama sekali. Dan karena tersebar kabar bahwa ada dua orang dokter yang datang ke Lasalimu, akhirnya kamipun dihubungi dan berkeliling ke rumah penduduk dengan menggunakan motor untuk periksa pasien dalam kondisi gelap. Di Lasalimu Pantai ini belum ada lampu jalan ternyata, pencahayaan hanya dari rumah penduduk. Ditambah lagi, di jalan motor kehabisan bensin oalaaah dan harus meminta bensin ke warga sekitar. Ehehehe seru!

Keesokan harinya, tujuan perjalanan adalah pantai Koguna, tetapi sambil menunggu body (perahu kecil) untuk kesana kami main-main di dermaga. Untuk berangkat ke pantai Koguna kami harus membawa makanan dari rumah. Seperti biasa, orang Buton kalau ke pantai pasti bakar ikan hehe. Di lasalimu harga ikan yang biasa dijual 10-20 ribu bener-bener banting harga jadi 1000 rupiah untuk 3 ekor ikan. ADUH MAMAAA SAYANGEEE! Saking banyaknya ikan dan hampir semua penduduknya adalah nelayan, ikan bahkan sering dibagikan gratis disini. Kami membawa nasi, ikan mentah, bahan untuk membuat colo’-colo’, dan peralatan untuk bakar-bakar.

Jual Beli Ikan di Lasalimu Pantai 



Tidak ada takutnya dengan laut



Sembari menunggu kapal, saya main di dermaga bersama anak-anak Bajo. Mereka biasa bermain disini setiap hari. Kagum sekali saya dengan anak-anak ini, tidak ada takutnya dengan laut! Bahkan laut menjadi seperti menyatu dengan mereka. Baju mulai dari kering, basah, kering, sampai basah lagi. Lompat sambil salto dari atas dermaga ke laut, lompat ke kapal dan berlari-lari di dek, memancing, naik katingting/sampan sampai jauh, membawa bulu babi dan berbagai hewan laut aneh lainnya. Kaki luka karena menginjak karang bukan lagi jadi masalah.

Berenang di dermaga

Dengan anak-anak suku Bajoe


Saya akhirnya memberanikan diri naik katingting atau mungkin biasa disebut sampan. Seru banget! Laut terasa dekat dan ramah :) Ketika puas berkeliling, tiba-tiba saya ‘diserang’ oleh anak-anak Bajo dan perahu saya ditenggelamkan. Saya panic dan berusaha mengeluarkan air dari katingting, tapi apa daya, katingting yang kecil lama-lama tenggelam juga. Akhirnya saya harus berenang, hehe. Jail sekali mereka itu. Dengan tingkah khas anak-anak yang lucu dan iseng akhirnya saya tertawa juga dan malah happy. Kapan lagi bisa berenang di dermaga dengan anak-anak Suku Bajoe yang fenomenal ini. :)

Naik katingting untuk pertama kalinya

Katingtingnya ditenggelamkan anak-anak hehe

Beberapa kali saya dikejar anak-anak, entah itu mau dikasih liat bulu babi-kah, atau bintang laut. “Bu Dokter, Bu Dokter, liat ini ada bintang lauuuuttt!!!”.


Setelah puas tertawa, berenang, dan bermain di dermaga dengan suku Bajoe, akhirnya bodi pun datang. Kami berangkat ke Pantai Koguna. Pemandangan di kanan kiri sepanjang perjalanan sangatlah indah. Daerah kepulauan dengan pasir putih dan air yang jernih. Breathtakingly Beautiful!

Di atas body menuju pantai Koguna
Perjalanan dari dermaga ke pantai koguna kurang lebih 45 menit. Pantai ini bisa ditempuh via jalur darat maupun jalur laut. Jalur darat memakan waktu lebih lama dengan kondisi jalan yang juga tidak mudah. Jalur laut tentu jadi pilihan!

Pantai Koguna nampaknya jadi pilihan untuk rekreasi bagi warga sekitar Desa Lasalimu Pantai. Berbondong-bondong warga datang dengan menggunakan bodi. Kira-kira ada kurang lebih empat bodi yang terparkir di pinggir pantai Koguna. Dengan kapasitas  satu bodi kira-kira 20-30 orang, bayangkan betapa penuhnya! Ditambah lagi biasanya mereka membawa sound system sendiri, suasana pantai koguna mengingatkan saya pada kondisi Kebun Binatang Ragunan ketika libur anak sekolah.

Pantai Koguna


Tapi penuhnya pantai tersebut terobati dengan kondisi laut yang jernih, tenang, airnya hangat dan sangat mengundang kita untuk berenang. Saya berenang sampai tidak peduli kulit hitam! Padahal bagi orang yang berasal dari jawa seperti saya ini, itulah hal yang dihindari, hehe.



Di daerah pantai Koguna ini juga ada yang dinamakan dengan Rawa Udang Merah. Jadi kita harus masuk sedikit ke daerah hutan di samping Pantai Koguno, kemudian sampai ke rawa yang didalamnya terdapat Udang Berwarna Merah. Bagus sekali!

Rawa Udang Merah

Kurang lebih jam 4 sore akhirnya kami pulang kembali ke Desa Lasalimu Pantai. Karena kecapean, hampir semua awak bodi ketiduran di perjalanan pulang. Hari yang menyenangkan! :) Selanjutnya kami istirahat dan bersiap untuk pulang kembali ke kota Bau-Bau keesokan harinya.

Ketika mengenang Lasalimu Pantai dan Anak-anak Suku Bajoe, akan ada desir hangat di dada.  A short-but-very-sweet escape. :)