Minggu, 29 November 2009

Balada ngojeg-ngangkot-ngebus-ngemotor-nebeng NANGOR-BANDUNG


Kerjaan jadi tukang RAPAT, MISS MEETING, SEKSI SOK SIBUK ato apalah itu memaksa saya, MEMAKSA saya (baca : dengan sangat terpaksa) untuk pulang malem terus. kata orang saya KURA-KURA, alias kuliah-rapat-kuliah-rapat, tapi istilah itu SO LAME beud MAN! jadi saya mendingan juga dibilang KUBANG-KUBANG alias KUliah NAbung KUliah NAbung (kok kayak kebo ya, berkubang liang?), MUKYAAHAAHAA... sedikit maksa emang, yah biarlah tapi kan emang bener nabung, nabung amal =) Insya Allah. Amin.

Ngekos? NGGAK.
Mau ngekos? BANGET!

Bawa kendaraan? NGGAK.
Pengen bawa motor? Pengennn BEUD! (*backsound: dhila jerit-jerit "SO KEWWLLL MAN")

tapi, kalo kembali lagi lagi ke topik ngekos/naek motor ini, ntar ujung-ujungnya saya bertengkar LAGI sama bunda+etta. they keep talking that LIVE means HARD WORK. orang lain untuk sukses bisa kerja keras, maka saya pun bisa. argumen apapun yang saya berikan, pasti bisaaaaaa aja dibantah. Kalo saya bilang, akademik saya jadi terganggu karena saya selalu kecapean, mereka menjawabnya dengan "Ya kamu harus manajemen diri dan waktu kamu. Sudah tahu amanahnya banyak, harusnya bisa lebih mengatur diri". Mereka selalu ngebandingin sama kondisi mereka dulu. KENAPA OH KENAPA??? *RATAPAN ANAK KANDUNG.


setelah melalui fase-fase menyedihkan, mengiba-mengiba, mengenaskan, dan mengepel lantai, akhirnya saya memutuskan untuk MENCARI dan MENGAIS (baca: mengada-adakan) hal positif dari perjalanan saya dari Nangor ke Bandung, pp (baca :pulang pergi, bukan post prandial- udh ky angkot aja, GYABOOO).


Perjalanan tiap pagi dan sore/malam itu membuat saya merasakan berbagai macam emosi. Mulai dari marah-marah sama sopir angkot, nangis gara-gara saya hampir mengalami sexual abuse waktu saya lagi nunggu bus, perasaan seneng waktu bus dateng setelah nunggu 30 menit nunggu sambil berdiri, kesel ngeliat di bus ada ibu-ibu tua berdiri dan ada laki-laki muda yang dengan asiknya duduk, ketiduran sampe kelewat turun, senengnya pas ada tebengan pulang dan ketawa-ketawa ngeliat tingkah polah orang-orang dalem angkot (ketawa dalem hati lah ya).

Juga membuat saya merasakan naek macem-macem; mulai dari angkot, beca, ojeg, angkot gratis, bus babon, elf (baca : peri). Yang belum tinggal TMB (Trans Metro Bandung); doakan saja, soalnya saya juga ngebet pengen naik ini.


Dengan uang pas-pasan tiap harinya (karena pengeluaran diluar ongkos yang menguras keuangan beud, kek fotcop, jaket, buku, patungan kue ultah, nalangin pengeluaran p&k, dll) jadi saya selalu nyari cara termurah. biasanya saya naek angkot ampe bunderan itu 3000, terus pas kemaren saya naek bus, ngasih 2000 trus dapet kembalian 200, gak tau kenapa, TAPI SAYA BENERAN SENENG BANGET! darmet bilang : "You're such a simple person". Hahaha =) GYABOOOOO. saya jadi LEBIH menghargai apa yang dulu saya KURANG hargai. (waktu SMA saya naek motor terus).


Saya juga jadi langganan ojeg, soalnya kalo naek beca 7000, naek ojeg cuma 5000. Lumayan. dan saya juga jadi deket banget sama bapak ojegnya, namanya pak sunaryo, pensiunan udah cukup tua, anaknya banyak. dia juga suka negur saya kalo saya pulang kemaleman. Bapaknya baik sekali :)


Intinya sih : banyak LIFE LESSON dari perjalanan bolak-balik saya. Tinggal upaya saya untuk mensyukuri ini semua sebagai bentuk pembinaan dari bunda+etta. Bismillah.

Sabtu, 28 November 2009

Tunggu aku

Idul Qurban terlewati ^^;

Kalau misalkan berqurban, sejatinya, merupakan ritus napak tilas; dengan tiap diri kita menjadi Ibrahim-ibrahim kecil yang ikhlas dan rendah hati, mengorbankan “Ismail” yang kita cintai dalam rangka ketundukan dan kepatuhan kepada Allah saja, sungguh saya merasa, bahwa mentalitas Ibrahim (tidak hanya Ibrahim sebenarnya, tapi juga Siti Hajar yang merelakan anaknya ‘disembelih’ dan tentu saja Ismail sendiri yang merelakan dirinya untuk diqurbankan, keduanya pun siap ditinggalkan bertahun-tahun oleh nabi Ibrahim as) adalah mentalitas dan jiwa pengabdi yang sungguh LUAR BIASA.

Kerelaan tunduk kepada Allah, dengan penyerahan jiwa yang total adalah suatu hal yang masih menjadi cita-cita, untuk saya. Sesuatu yang masih insya Allah akan terus diproseskan, walaupun sekarang kualitas saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka.

“Belajar dari Ibrahim, Belajar taqwa kepada Allah”
(Cuplikan lirik dari lagu yang berjudul “Belajar dari Ibrahim”)
Semua mereka, para pendahulu kita, mempunyai kapasitas individu dan kesiapan luar biasa. Optimal-maksimal. Dedikasi. Totalitas.
Sungguh, saya malu.

Saya sering sekali berpikir;
kok ada ya, orang yang rela meninggalkan keluarganya berbulan-bulan, ditinggalkan berbulan-bulan, dimusuhi, ditembaki, dicaci-maki, kelaparan, menyembelih anaknya sendiri, dibakar, mengikatkan kaki ke tanah saat hendak diserang musuh agar tidak kabur. Ini sungguh bukan perumpamaan yang lebay. ini SUNGGUH terjadi.

Ada faktor x yang saya tahu dan saya kelu mengucapkannya.
Faktor X itu adalah : kesiapan.
Kesiapan untuk ta'at, menyerahkan jiwa raga, mengikuti SELURUH (tanpa terkecuali) perintah Allah. Kerelaan tunduk dengan ikhlas kepada Dzat Yang Maha Memiliki Diri.
Subhanallah, kualitas luar biasa.

Para Nabi dan Rasul, para Assabiqunal Awwalun, para sahabat, dan para pendahulu di tanah ini, Indonesia. Semoga Ridho Allah selalu bersama kalian, dan bersama kami, pelanjut apa yang kalian perjuangkan. Amin.

Teman saya pernah bilang : "Ki, di setiap zaman, pasti selalu ada ki, orang-orang dengan mentalitas yang seperti itu. Kalau zaman dahulu ada orang-orang seperti Bilal, Siti Masyitoh, Abu Dzar, Mushab, dll, pasti ki, di zaman sekarang pun pasti ada, pasti ada".
ya Allah, semoga aku menjadi salah satunya.
semoga aku menjadi salah satunya.

11 Dzulhijah
Tunggu aku wahai para pendahulu,
di barisan kalian.
-belajar dari Idul Qurban-


Minggu, 22 November 2009

Saya minta kita semua dewasa.

Saya marah.
KESEL BANGET SAMA KALIAN.

Gak bisa apa berpikir pake kepala dingin,
emosian terus.

Saya capek, capek.

Tolong ya, udah.
Udah.
Udah!

Kalo kalian masih nganggep saya saudara, tolong STOP SEKARANG JUGA.
Bertengkarnya kalian ini NONSENSE tau nggak?!

Dosa jadinya,
sebener apapun intensi kalian, kalo udah kecampur ama nafsu, apa-apa juga gak akan jalan, gak akan bener.

JADI TOLONG BERHENTI.

*huff, astaghfirullahaldzim.

sekarang, lebih baik,
jauh lebih baik,
kita pikirin, kedepannya kita mau gimana.

ya?

teman-teman,

tolong.





Jumat, 20 November 2009

antara cheetos, beca, dan hujan malam ini...

bingung kan?
sama, saya juga bingung,
kenapa judulnya cheetos, beca, dan hujan malam ini...
Padahal gak ada sambungannya. Ya, mari kita ada-adakan :)

Pulang bawa gembolan, sedang hujan, ngangkot dari bunderan bawa kardus berisi buku-buku yang harus dinilai dan katzung yang bisa buat gebuk orang, mungkin membuat saya sedikit somnolent. Pas bunda telepon suruh saya beli susu buat Ibrahim, saya sudah agak2 sulit konsentrasi. Harusnya sms di sent ke bunda, saya malah sent sms itu ke......CANUN. Tragis.
(dari B, untuk Bunda, ke C, untuk Canun, di phonebook saya jaraknya dekat, TAPI KENAPA CANUN??! *histeria sambil koprol)

Ok, di griya saya beli susu Ibrahim, coffeemix, dan....cheetos.
Entah kenapa dari mungkin sejak saya TK kali ya, saya suka sekali cheetos. Yang rasa jagung bakar dan rasa ayam bakar *hee?. Segimana dilarangnya, dimarahinnya, tetep aja sampe sekarang saya bandel, beli lagi lagi dan lagi. I'm addicted to this.

Setelah itu, saya nge-beca, bersiap pulang.
and this is the start of our story for tonight.

di beca, sambil suasana hujan, saya makan cheetos.
saya merenung, dan me-recall kembali beberapa situasi dalam hidup saya yang patut dievaluasi. dan saya juga berfikir, about death, and how certain death will happen, eventually.

Saya gak tau cheetos, beca, dan hujan punya efek apa, gak jelas patfisnya pula, tapi satu hal, ketiga komponen itu berintegrasi dan menggelitik satu rasa dalam diri saya.
saya kembali merecall memori-memori saya satu-satu.
----------------------------------------------------------
1. Siang tadi di saung A2
Saya lalai dalam berucap, terbawa emosi sampai ngomong yang naudzubillah mudah-mudahan gak kejadian sama temen saya. Haduh. Maafkan lisan dan diri yang lalai ini ya to. Resolusi saya untuk ini adalah : tidak gegabah dalam berbicara. Bismillah.

2. Temen-temen (baca : saudara) saya di SMA.
Saya tau ini cengeng, tapi saya sedang dalam keadaan sangat kangen dengan mereka semua. Mereka lebih dari teman, ataupun sahabat, mereka saudara-saudara saya, dunia akhirat, insya Allah. Tiba-tiba teringat kembali ikrar kita setiap pagi di pembukaan :

Radhitubillahirabba (Aku Ridho Allah sebagai Rabbku)
Wa bil Islamidiina ( dan Islam sebagai Dinku)
wa bil Muhamadin Nabiya wa Rasula ( dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku)
wa bil Qur'ani Imama wa Hukma (dan Al'Qur'an sebagai pedoman hidupku)
wa bil mu'minina ikhwana (dan orang-orang beriman sebagai saudaraku)

*saya sedikit kesulitan me-latin-kan bahasa arab.

dari kelas 5 Hamzah bin Abdul Muthalib, ke kelas 6 Abu Bakar Ash-Shidiq, ke kelas 7 Habab bin Mundzir, ke kelas 8 Zaid bin Tsabbit, ke kelas 9 Abdullah bin Mas'ud, ke kelas 10 Abu Bakar Ash-Shidiq, ke kelas 11 IPA Umar bin Khattab, dan akhirnya ke kelas 12 IPA Utsman bin Affan.
Setiap harinya adalah pembelajaran.

Saya tidak boleh cengeng.
Saya benar-benar tidak boleh cengeng.

Saya rindu kalian semua. Sungguh rindu.
Mudah-mudahan semua dari kita istiqamah dalam pengabdiannya.
dan kita akan berkumpul kembali, suatu saat nanti, di surga Allah. AMIIINNN.

3. Adik-adik (Najib, Muthian, Yasyri, Ibrahim)
Saya tiba-tiba merasa, saya sebagai kakak masih gak bener. Gak bisa bimbing mereka, yang jelas-jelas sangat membutuhkan saya. Waktu saya tersita habis diluar. Saya pulang, mereka sudah tidur. dan saya selalu pergi pagi-pagi. Jika ada yang terenggut dari saya, itu adalah waktu. Waktu saya bersama adik-adik saya. Saya punya tanggung jawab untuk mengarahkan mereka. tapi saya belum bisa membagi waktu saya dengan benar. Saya terlalu tersita dengan kegiatan di kampus.

4. Tentang mati.
"Kullu nafsin da'iqatul maut"
Setiap yang berjiwa pasti mati.
Menurut saya sendiri, cara yang paling cepat dalam mengembalikan niat saat terpeleset dari rel-nya adalah mengingat kematian. Mengingat kematian, adanya saat dimana semua ini, semua, yang ada pada kita memiliki waktu-nya sendiri, menghadap kembali kepada Rabb-nya, dimintai pertanggungjawaban atas aplikasi di dunia mengenai persaksian yang dilakukan di alam ruh, seharusnya membuat kita semakin semangat menjalani hidup. Bahwa selalu ada ganjaran atas SETIAP amal perbuatan, seharusnya membuat kita, manusia, menjalani hidup dengan seoptimal-maksimal mungkin.

Saya berpikir, siapkah saya apabila saya meninggal?
Apa yang sudah saya jadikan bekal?
Tapi kawan, siap tidak siap, dia akan datang. Ya, kematian.
Ia tidak mendengar rengekan, tangisan, ibaan kita untuk perpanjangan waktu. Kematian, malaikat kematian, berlaku sesuai ketetapanNya. Pertanyaan besarnya adalah: sudahkah saya (kita) sesuai ketetapanNya?
"Bukankah Aku ini Rabb-Mu? Mereka menjawab: "Ya betul, (Engkau Rabb kami) , kami bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini". QS. Al-A'raf : 172.
---------------------------------------------------------
Perjalanan beca yang memakan ongkos 7rb (fisiologis) dan kadang 10 rb (patologis) menjadi inisiasi pemikiran saya untuk malam ini.

Cheetos, beca, dan hujan memang tidak berhubungan. Tapi kehadiran ketiganya dalam perenungan singkat saya membawa perubahan yang, sungguh, nyaman.

Time to go,
assessment dan buku-buku fasil menunggu untuk ditengok.
Laf Laf. hauum.

"cheetos, hujan, beca"
20 November 2009
untuk jiwa para pengabdi,
-Everyman dies, but not everyman really lives-

Rabu, 18 November 2009

Rabu, 18 November 2009

06.30 : Memaksakan diri untuk berangkat, ngojeg sampe depan metro, Rp 5000.

07.30 : Print data assessment di fotkop pangdam, murahhh!!! 200/lembar =)

07.45-09.00: Ngobrol dengan tazkia mengenai forum muslim yang terjadi hari sebelumnya. Tenggelam dalam diskusi tanpa memperhatikan kuliah dr. Lulu. Parah.

09.00-11.30: Tutorial, belum selesai LI jadi presentasi hari Jum'at, ngerasa gak enak. Bawaannya gak nyaman.

11.30-12.00: Bujuk-bujuk Naomy untuk masuk panwaslu menggantikan saya, dan dia finally MAU!, akhirnya bicara dengan otay baik-baik mengenai keputusan dan alasan saya resign dari panwaslu. Maaf tay, saya gak bisa memberikan yang terbaik di panwaslu.

12.00-12.30: Ngantri di kantin bareng dhila, beli baso tahu setengah porsi Rp 3000, dibayarin dhila ^^ Sungguh menyambung hidup dari belas kasihan teman-teman =( Kemaren malem dibayarin makan sama Otto, siangnya dibayarin Dhila. Cape dehh ^^;

12.30-13.00: Bicara dengan Deddy-dung tentang kemungkinan kastil mengkaji tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang lulusan FK Unpad.

13.00-15.30: Skills lab bareng Otto dan Canun. Melabil ber-tiga, enggak sih, sebenernya yang labil canun, pura-pura jadi pasien bernama Deddy Oskar yang diperkosa oleh Saif dan Otto (Canun Cabul beneud), bwahahahaha...

15.30-15.45: Diskusi dengan kang ababil tentang medicinus expo

15.45-17.00: Ngobrol sama teh moi bareng radit, canun, otto. Berbagai pikiran berkecamuk, tapi kembali lagi, saya tetap diam dan memperhatikan saja. Penat.

17.00-17.10: Diberi tahu Kang Ribong, bahwa saya diomongin orang dan dicap tidak bertanggungjawab tentang keputusan saya resign dari panwaslu. menangis. mereka sungguh sangat konyol.

17.10-18.05: Diskusi dengan Kang Ribong, Teh Kaka, Radit, tentang kondisi kemahasiswaan kampus.

18.05-18.30: Nunggu dhila, rima dan kang Ribong selesai sholat. Bertemu tim sukses kang Dani di A1. ngenes, saya bersama kang ribong.

18.30-21.30: Rapat P&K di haryanti. Senang. Kesel sama radit yang ada di toriq ngobrol dengan anak 2009. Excited sama tugas P&K kedepannya.

21.30-22.30: Dianter teh kaka pulang sampe depan rumah.

23.30: Menulis ini.

Hari ini, semua tumplek blek. Tawa, tangis, haru, kesal, amarah. Diskusi-diskusi. Kebersamaan yang manis. P&K. Anak2 Toriq. Dhila. Skill's lab. Otay. Ojeg. Tutor. Teh Kaka. Flori-Putri. All.

Ya Allah, semoga rutinitas tidak membuatku kehilangan esensi atas segalanya.
Ya Allah, jangan lenakan aku dengan semua ini. Amin.

masih ingat "kita"?

masih ingat “kita”?
kita yang dulu bersama telah belajar begitu banyak teori dalam camp penampungan, kita yang dulu bertekad membawa perubahan pada jalanan ini, bahkan kita yang sempat menangis ketika waktu mengharuskan kita meninggalkan camp dan menghadapi situasi baru yang berbeda dimana tak ada lagi kata “kita”...

masih ingat “kita”?
semoga kau sembuh…

*sebuah note cop-pas dari kakak kelas yang membuat saya kembali, kembali lagi, berpikir.

Selasa, 17 November 2009

Makan sambil berdiri haram?

Saya jadi keingetan sama mahfudzoh saat saya masih TK,
dulu cara menghapalkannya adalah dibaca kenceng-kenceng
(*saat bilang kenceng, i really mean it)
bunyinya begini:
La takul qa'iman = janganlah makan sambil berdiri
La tashrab qa'iman = janganlah minum sambil berdiri
(maaf kalo bahasa arabnya rada ngaco, saya sedikit lupa tulisannya *apalagi memakai tulisan latin)

Tadi, setelah baca postingan temen saya tentang eskrim, apakah itu makanan/minuman, berkaitan dengan hal bahwa diharamkan makan sambil berdiri (kalo minum boleh katanya)
sekarang, saya banyak berpikir.
sebenernya makan sambil berdiri itu haram atau enggak sih?
Berarti kan kalo haram ada hukuman syari'atnya kalo dilanggar ya...

Tetapi, sepengetahuan saya (tolong dikoreksi kalo salah) tidak pernah ada yang menyebutkan bahwa dilarang kita untuk makan sambil berdiri.
Saya dulu pernah ditegur keras temen saya di kampus waktu acara humaniora karena waktu itu saya makan snack sambil berdiri. Mendengar dia seperti itu, saya didalam hati malah tertawa kecil (bukan ngetawain dia).

Lucu ya, untuk hal seperti makan yang malah tidak ada aturan "resmi" dari Allahnya saja orang-orang heboh bukan main. Tapi untuk aturan Allah yang sudah sangat jelas kebenarannya, manusia masiiiihhh saja enggan menerima.

Sungguh ironi.

Wallahu'alam.

Allahu Rabbi, aku penat...

Allah, hari ini aku menyadari,
bahwa apa yang aku lakukan hari-hari kebelakang ini adalah sia-sia...
Mereka semua tidak mengerti, apa itu cita-cita, apa itu aqidah ideologi, apa itu ibadah.
Lantas, mengapa aku terlibat begitu dalam dengan hal ini?

Allahu Rabbi, aku penat
Allahu Malik, aku lalai
Allahu Illahi, aku tidak fokus amanah.

Kenapa untuk menyadari sesuatu, jalanku harus sangat berputar ya Allah...
Sudah diberitahu sejak awal,
tapi tetap saja, rasa-ku mengalahkan segalanya.

Ibadah : "Fi'lun mukallafun 'alaa khilafin hawa nafsihi ta'zhiman lirabbihi"
(Perbuatan seorang mukallaf yang tidak didasari oleh hawa nafsu dan dalam rangka mengagungkan Nama Allah)

Allahu Rabbi, biarkan diri ini hanya mengabdi kepadaMu
Allahu Malik, biarkan diri ini hanya mengagungkan Nama-Mu
Allahu Illahi, biarkan diri ini hanya mencintai-Mu

Allah, aku lalai.
Apa yang aku lakukan hari-hari kebelakang ini, berada diluar amanahku ya Rabb.
Berada di luar amanah berarti, apa yang aku lakukan tidak menjadi ibadah di hadapanmu ya Allah.
Sia-sia.

Aku lalai Rabbi,
Fulki lalai.

ya Allah, jadikanlah aku satu diantara para penegak aturanMu, yang Engkau janjikan kepadanya nikmat.
Bukan mereka yang engkau murkai, dan bukan pula mereka yang sesat.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah.
Astaghfirullah.

*dan aku sudah tidak ingin terlibat dalam ini semua.
Silahkan pilih siapapun yang kalian kehendaki, karena itu tidak akan berpengaruh apa-apa.

Kamis, 12 November 2009

"Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah, menyesal berada diantara kalian"


"Rizka Vinkan Septiani
Rena Nurita
Alvy Syukrie
Uno Chirurgia
Fulki Fadhila
Rima Destya Triatin
Radityo Akhmedika Fauzie
Arief Rahman Faishal Pasaribu
Aulia Asmarantaka..

..terima kasih atas perluasan wawasan, inspirasi, dan masa yang ternikmati, yang kalian berikan sederas hujan yang turun tadi dan memberi pencerahan bagai bintang di langit malam ini.. :)

Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah, menyesal berada diantara kalian..."

Ini adalah sebuah note facebook yang saya copas dari note kang ribong, senior saya di P&K. Judul notenya, malam ini. Awal baca note ini, awalnya saya bingung, kenapa kang ribong, baca sekali lagi, KANG RIBONG, bisa tiba-tiba melankolis seperti ini. Tapi, lambat laun, saya mengerti. Ini layaknya hati kita digedor oleh godam raksasa, diminta dibuka, dan sangat keterlaluan (baca:aneh) apabila masih saja belum terbuka. Maaf berbelit-belit, maksudnya adalah, malam kemarin adalah malam yang sangat, hm, saya sendiri kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya. NGEEEKKK, pasti jadi tambah bingung. Maaf.

Singkat cerita, malam kemarin adalah kumpul P&K yang pertama setelah mabim selesai. Bisa bayangin, orang-orang yang biasanya seminggu 4x kumpul (udh kek makan obat, hahaha) tiba-tiba gak kumpul sama sekali. Aneh. Kalo kata kang alvy, kondisi kita pas mabim 2 bulan itu udah kayak pola hidup, dan tiba-tiba berhenti, ini jadi hal yang, oke, NGANGENIN, sangat.

Kemarin itu seperti biasa, kita berdiskusi, tentang banyak hal. Gak tau ya, tapi memang saya pada dasarnya adalah orang yang senang berdiskusi, jadi saya sangat menikmati setiap diskusi-diskusi kita. Ada upgrading tersirat yang saya rasakan saat kita berdiskusi. Memperkaya, penuh makna.

Jadi sedih. Karena tahun depan, rutinitas ini akan kembali saya rindukan.

STOP. STOP talking about things that make things even worse than before.

ok, STOOPPP about that.

Saya sempet sedih, waktu ada yang bilang, “Saya kerja di P&K udah gak pake hati lagi, yang penting tugas saya selesai”.

Ini semua akan berakhir, tugas kita di P&K. Dan mudah-mudahan, tidak hanya saya, bisa mengambil yang terbaik di dalamnya.


UPGRADING P&K 1. Rumah Kang Deta.
Waktu memasak : 3 jam :)

Gambarnya dhila, tentang 13 orang yang (kata tenrong)
menyebabkan alay outbreak di 2009.

Rapat mengonsep mabim, yang diakhiri dengan,
seperti biasa, kejutan-kejutan manis ^^

Mengulang kata-kata kang Ribong,


”Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah, menyesal berada di antara kalian”

*apa kang uno??? APA KANG??? OK, AZAS MENOLONG DAN TERDESAK. GOT IT.

Selasa, 10 November 2009

balancing the whole thing, like my father said : "jadilah orang besar dengan jiwa yang besar nak"

My father once told me :

“Nak, kamu harus jadi orang besar dengan jiwa yang besar”.

I keep questioning, sebenernya apa yang dimaksud dengan jiwa besar, dan tentu saja orang besar. Memahami nasehat Etta (the way I called him-my lovely father) memang butuh waktu panjang, dan diulang-ulang. Kata-katanya mutiara, yang tidak dapat diartikan oleh pemahaman dangkal nan sempit yang tergesa-gesa.

Pernah Etta bilang, ” Kak, Etta tidak bangga kamu jadi dokter, pintar, organisasi-mu hebat, hidupmu berkecukupan, dsb. Etta dan bunda akan bangga kalau kamu jadi anak sholeh, bervisi besar, selamat dunia akhirat, menjadi pejuang pemberani”.

Jadi, saya ngambil kesimpulan :

Orang besar maksud ayah saya adalah orang dengan visi misi besar, bukan jangka pendek. Orang dengan visi misi akhirat, bukan dunia.

Jiwa besar maksud ayah saya adalah jiwa-jiwa pembelajar, jiwa yang tidak pentang menyerah akan tantangan yang menghadang, jiwa yang akan terus membaktikan diri untuk Rabb-nya. Jiwa besar = Jiwa Pemenang.

Etta dan Bunda dalam sepak terjangnya, adalah inspirasi. Hidup mereka inspirasi. Cinta mereka adalah inspirasi. Kasih sayang mereka adalah inspirasi. Cita-cita mereka inspirasi.

Etta dan Bunda, keseluruhan mereka adalah inspirasi hidup saya.

Temen saya pernah bilang, ”enak ya pul, orang tua kamu, orang tua saya gak seperti itu”. Menurut saya, mendapat orang tua itu, sama kayak kita dikasih wajah oleh Allah. Suatu hal yang gak bisa diganggu gugat. Saya sendiri percaya, semua yang terjadi pada kita, semua ketetapan Allah, harus diambil hikmahnya.

Masa entar pas di alam hisab, pas ditanya ”Kenapa kamu lalai dalam mengabdi kepada Allah?” terus kita jawab ”karena orang tua saya pun adalah orang yang lalai.” Lah, kan tidak begitu. Seharusnya sih, menurut saya, faktor orang tua harusnya tidak dijadikan alasan. Lihat mushab bin umair, mujahid tangguh super perkasa, yang dijanjikan surga kepadanya. Lihat latar belakang orangtuanya, seperti apa mereka mengecam mushab bin umair. Tapi, pernahkah Mushab bin umair berhenti? Tidak kawan, Mushab tidak pernah berhenti.

Tapi memang, saya harus bersyukur.

Banyak-banyak bersyukur.

Atas nikmat Iman dan Islam yang saya dapatkan.

Senin, 09 November 2009

and I'm sorry for the stupid things I wish I didn't do but I do...

As life goes on I’m starting to learn more and more about responsibility
I realize everything I do is affecting the people around me
So I want to take this time out to apologize for things I have done
And things that have not occurred yet
And the things they don’t want to take responsibility for

Rabu, 04 November 2009

Lagu Mehek Backsound EMS, SOMEDAY.

Ini lagunya enak banget, cocok malem2 gini, ehehe
belajar EMS yang hampir bikin semaput, sambil ditemenin lagu ini,
entah kenapa rasanya pas...
gak ada maksud tertentu dengan liriknya, cuma enak aja =)

Someday - Nina
Someday you're gonna realize
One day you'll see this through my eyes
By then I won't even be there
I'll be happy somewhere
Even if I can't

I know
You don't really see my worth
You think you're the last guy on Earth
Well I've got news for you
I know I'm not that strong
But it won't take long
Won't take long

Chorus

Cause someday, someone's gonna love me
The way, I wanted you to need me
Someday, someone's gonna take your place
One day I'll forget about you
You'll see, I won't even miss you
Someday, someday

Right now
I know you can tell
I'm down, and I'm not doing well
But one day these tears
They will all run dry
I won't have to cry
Sweet goodbye

Chorus

Cause someday, someone's gonna love me
The way, I wanted you to need me
Someday, someone's gonna take your place
One day I'll forget about you
You'll see, I won't even miss you
Someday,
I know someone's gonne be there

Someday, someone's gonna love me
The way, I wanted you to need me
Someday, someone's gonna take your place
One day I'll forget about you
You'll see, i won't even miss you
Someday, someday

Minggu, 01 November 2009

membina diri.


FOKUS!
FOKUS!
FOKUS!
karena pada akhirnya, semua selain ibadahmu tidak akan menyelamatkan kamu.
jangan mengerjakan hal yang sia-sia; hal-hal yang sesusah-payah apapun tidak akan memberikan kontribusi apa-apa pada keselamatanmu.
sepintar-pintarnya kamu jadi dokter ful, sehebat-hebatnya kamu di organisasi, sebanyak-banyaknya teman-teman kamu, semua akan sia-sia kalau itu tdk menjadi penyelamatmu di akhirat nanti.