Sabtu, 28 November 2009

Tunggu aku

Idul Qurban terlewati ^^;

Kalau misalkan berqurban, sejatinya, merupakan ritus napak tilas; dengan tiap diri kita menjadi Ibrahim-ibrahim kecil yang ikhlas dan rendah hati, mengorbankan “Ismail” yang kita cintai dalam rangka ketundukan dan kepatuhan kepada Allah saja, sungguh saya merasa, bahwa mentalitas Ibrahim (tidak hanya Ibrahim sebenarnya, tapi juga Siti Hajar yang merelakan anaknya ‘disembelih’ dan tentu saja Ismail sendiri yang merelakan dirinya untuk diqurbankan, keduanya pun siap ditinggalkan bertahun-tahun oleh nabi Ibrahim as) adalah mentalitas dan jiwa pengabdi yang sungguh LUAR BIASA.

Kerelaan tunduk kepada Allah, dengan penyerahan jiwa yang total adalah suatu hal yang masih menjadi cita-cita, untuk saya. Sesuatu yang masih insya Allah akan terus diproseskan, walaupun sekarang kualitas saya masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka.

“Belajar dari Ibrahim, Belajar taqwa kepada Allah”
(Cuplikan lirik dari lagu yang berjudul “Belajar dari Ibrahim”)
Semua mereka, para pendahulu kita, mempunyai kapasitas individu dan kesiapan luar biasa. Optimal-maksimal. Dedikasi. Totalitas.
Sungguh, saya malu.

Saya sering sekali berpikir;
kok ada ya, orang yang rela meninggalkan keluarganya berbulan-bulan, ditinggalkan berbulan-bulan, dimusuhi, ditembaki, dicaci-maki, kelaparan, menyembelih anaknya sendiri, dibakar, mengikatkan kaki ke tanah saat hendak diserang musuh agar tidak kabur. Ini sungguh bukan perumpamaan yang lebay. ini SUNGGUH terjadi.

Ada faktor x yang saya tahu dan saya kelu mengucapkannya.
Faktor X itu adalah : kesiapan.
Kesiapan untuk ta'at, menyerahkan jiwa raga, mengikuti SELURUH (tanpa terkecuali) perintah Allah. Kerelaan tunduk dengan ikhlas kepada Dzat Yang Maha Memiliki Diri.
Subhanallah, kualitas luar biasa.

Para Nabi dan Rasul, para Assabiqunal Awwalun, para sahabat, dan para pendahulu di tanah ini, Indonesia. Semoga Ridho Allah selalu bersama kalian, dan bersama kami, pelanjut apa yang kalian perjuangkan. Amin.

Teman saya pernah bilang : "Ki, di setiap zaman, pasti selalu ada ki, orang-orang dengan mentalitas yang seperti itu. Kalau zaman dahulu ada orang-orang seperti Bilal, Siti Masyitoh, Abu Dzar, Mushab, dll, pasti ki, di zaman sekarang pun pasti ada, pasti ada".
ya Allah, semoga aku menjadi salah satunya.
semoga aku menjadi salah satunya.

11 Dzulhijah
Tunggu aku wahai para pendahulu,
di barisan kalian.
-belajar dari Idul Qurban-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar