Selasa, 10 November 2009

balancing the whole thing, like my father said : "jadilah orang besar dengan jiwa yang besar nak"

My father once told me :

“Nak, kamu harus jadi orang besar dengan jiwa yang besar”.

I keep questioning, sebenernya apa yang dimaksud dengan jiwa besar, dan tentu saja orang besar. Memahami nasehat Etta (the way I called him-my lovely father) memang butuh waktu panjang, dan diulang-ulang. Kata-katanya mutiara, yang tidak dapat diartikan oleh pemahaman dangkal nan sempit yang tergesa-gesa.

Pernah Etta bilang, ” Kak, Etta tidak bangga kamu jadi dokter, pintar, organisasi-mu hebat, hidupmu berkecukupan, dsb. Etta dan bunda akan bangga kalau kamu jadi anak sholeh, bervisi besar, selamat dunia akhirat, menjadi pejuang pemberani”.

Jadi, saya ngambil kesimpulan :

Orang besar maksud ayah saya adalah orang dengan visi misi besar, bukan jangka pendek. Orang dengan visi misi akhirat, bukan dunia.

Jiwa besar maksud ayah saya adalah jiwa-jiwa pembelajar, jiwa yang tidak pentang menyerah akan tantangan yang menghadang, jiwa yang akan terus membaktikan diri untuk Rabb-nya. Jiwa besar = Jiwa Pemenang.

Etta dan Bunda dalam sepak terjangnya, adalah inspirasi. Hidup mereka inspirasi. Cinta mereka adalah inspirasi. Kasih sayang mereka adalah inspirasi. Cita-cita mereka inspirasi.

Etta dan Bunda, keseluruhan mereka adalah inspirasi hidup saya.

Temen saya pernah bilang, ”enak ya pul, orang tua kamu, orang tua saya gak seperti itu”. Menurut saya, mendapat orang tua itu, sama kayak kita dikasih wajah oleh Allah. Suatu hal yang gak bisa diganggu gugat. Saya sendiri percaya, semua yang terjadi pada kita, semua ketetapan Allah, harus diambil hikmahnya.

Masa entar pas di alam hisab, pas ditanya ”Kenapa kamu lalai dalam mengabdi kepada Allah?” terus kita jawab ”karena orang tua saya pun adalah orang yang lalai.” Lah, kan tidak begitu. Seharusnya sih, menurut saya, faktor orang tua harusnya tidak dijadikan alasan. Lihat mushab bin umair, mujahid tangguh super perkasa, yang dijanjikan surga kepadanya. Lihat latar belakang orangtuanya, seperti apa mereka mengecam mushab bin umair. Tapi, pernahkah Mushab bin umair berhenti? Tidak kawan, Mushab tidak pernah berhenti.

Tapi memang, saya harus bersyukur.

Banyak-banyak bersyukur.

Atas nikmat Iman dan Islam yang saya dapatkan.

1 komentar: