Sabtu, 25 Januari 2014

Kami Cinta Indonesia #playlist

Kami Cinta Indonesia - Dira Sugandi, dibuat oleh Alm. Harry Roesli



Eargasmic.

Sabtu, 11 Januari 2014

Duh, klasik.

Saya kembali ke ground zero. 

Setelah sekian lama saya seringkali menolak istilah "ignorance is a bliss" karena menurut saya ignorance itu bentuk ketidakpedulian destruktif dan tidak menyelesaikan masalah. Dan balik lagi, dari dulu saya ini emang sering dimarahi orangtua karena terlalu perasa. Lebih baik sakit hati sendiri daripada bikin orang lain sakit hati. 

Odong. 
Untungnya hal yang sama g terjadi kalau konteks-nya kerjaan. 

Saya betul-betul harus berubah.
Dengan kondisi di rumah berlima dengan teman-teman yang karakternya beda-beda (bedanya kadang sampai bikin dyspnea), peduli nampaknya malah jadi destruktif. Atau bukan peduli-nya yang salah, tapi kadarnya. Mungkin juga ini terkait bagaimana saya memposisikan diri, atau diposisikan oleh teman-teman yang lain. Saya mendengar terlalu banyak hal, merasa ditarik kanan-kiri. Dan kalau menurut saya ini bukan hal yang terlalu saya harus lawan (g prinsip buat diintervensi maksudnya) yaudah saya terima-terima aja.

Tapi lama-lama cape juga ya. 

Saya cerita semuanya ke bunda-etta (udah kaya paketan kaga bisa dipisah, kaya soekarno-hatta). Bunda Etta jadinya khawatir, kenapa disini saya sedih terus. Kenapa saya terlalu merasa bertanggung jawab terhadap teman-teman saya sendiri. Padahal buat apa.

"Kakak ini kan harusnya berjuang untuk dapat ridho Allah, bukan ridho dari teman-teman."

Rasanya kaya dilempar dari atas keraton ke Pantai Kamali. 

Postingan curhat klasik ini saya akhiri dengan nasehat Etta (kangen beeehhh)
"Kalau memaknai semua sebagai proses pembinaan, gak akan ada yang namanya kesel/marah/kecewa sama manusia. Selamat menikmati pembinaan dari Allah disana, kakak. Buktikan!”

 ***

Semoga saya gak akan nulis yang ini ini lagi.

Rabu, 08 Januari 2014

Sunrise hari ini :)




Sejak satu minggu kemarin, setiap jam 5 pagi, saya jalan kaki keliling kota. Dengan modus refreshing, olahraga, dan tentu saja menurunkan berat badan. Hehe. Karena kota-nya kecil, dari rumah ke ujung kota jadi sangat dekat. Biasanya kalau berangkat jam 5, jam 5.45 sudah sampai di kota Mara (satu area pinggir pantai gitu) dan bisa liat matahari terbit. Cantik sekali, berpendar kaya pake lampu sorot. :)

Ini fotonya beneran asli g pake filter. Angle-nya agak maksa tapi gapapalah-ya, maklum amatir. Mudah2an yang melihat bisa merasakan apa yang saya rasa ketika melihat langsung. 

"Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu"

Selasa, 07 Januari 2014

Bau-Bau's interns.


dr. Livy - dr. Yafidy - dr. Cindya - dr. Deddy - dr. Fulki

Testimoni tekakadut~

Eish, pertama kalinya disuruh nulis buat blog nikahan orang, hehe.
Yang minta-nya adalah ketua kaderisasi sebelum saya, orang yang juga "membesarkan" saya di kaderisasi Senat. Bikinnya antara geli sendiri, tapi agak haru gimanaa gitu, soalnya saya kenal dan sangat dekat dengan teteh yang bersangkutan. 

Semoga Allah lancarkan proses-nya dan sampai kedepan-depannya ya teteh.
Kiss kiss muaaah :*

Awalnya disuruh bikin testimoni tapi malah jadi ngalor ngidul. Daripada dibuang sayang akhirnya mending saya post di blog aja, hehe.



*** 

            Teruntuk teh Rizka Vinkan Septiani tersayang yang akan segera mengakhiri masa lajang. Ehem, akhirnya. :p
Seorang sahabat saya (yang sudah menikah) pernah bilang; “Pernikahan itu, satu tahun pertama-nya saja yang cinta. Selanjutnya adalah persahabatan.” Teringat lagi cerita teh kaka sewaktu baru bertemu Bang Yonni, dan menceritakan perjalanan singkat dari awal sampai akhirnya bisa memutuskan menjawab “ya.”.
Teh kaka adalah seorang yang sangat inspiratif buat saya. Perkenalan saya dengan dunia kaderisasi yang sampai akhirnya saya dalami, adalah karena ketua seksi sekaligus teteh tersayang saya yang satu ini. Beliau bisa menyemangati dan memberi inspirasi tanpa harus berbelit-belit. Tepat sasaran, langsung kepada subjek yang beliau maksud. Terkesan ceplas-ceplos terkadang, tapi buat saya sosok teh kaka adalah sosok yang bisa menempatkan diri. Beliau bisa menjadi sahabat yang masuk ke berbagai kalangan, tapi tidak kehilangan wibawa untuk menjadi kakak yang didengarkan oleh adik-adiknya.
Pernah teh kaka bercerita, bahwa beliau membuat list kriteria partner ideal (sebut saja suami) yang akhirnya membuat beliau jadi stres sendiri. Karena menurut beberapa teman dekatnya, list itu terlalu ideal, alias too good to be true. Kriteria inilah yang akhirnya membuat teh kaka yang memang (saya yakin) pemilih, menjadi semakin terbatas pilihannya. Hal yang menurut saya wajar, ya iyalah ini kan menentukan pasangan hidup, bukan pilih ikan di pasar (maaf ini tulisan anak internsip di kepulauan, jadi mikirnya pasar ikan terus, hehe). Walau mulai gelisah karena ditinggal teman-teman dekatnya menikah satu persatu, mengingat usia juga yang semakin membuat lampu merah kedip-kedip, tapi tetap, teh kaka bertahan dengan kriteria yang telah dia buat itu. Begitu persistent-nya teteh yang satu ini ketika sudah menentukan dan membulatkan diri dengan satu keyakinan. Bahwa janji Allah itu pasti, lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik. Kegelisahan itu akan diganti dengan yang jauh lebih baik oleh mereka yang bersabar dan berikhtiar. :)
Sampai ketika Bang Yonni datang (jreeeng), dan teh kaka mengiyakan. Prosesnya tentu tidak mudah, pastinya. Tapi ketika seorang dengan kapabilitas seperti teh kaka sudah menjawab “iya”, maka saya yakin, insyaAllah dia yang terbaik. Orang seperti teh Rizka Vinkan Septiani, menurut saya bukan termasuk orang yang bermain-main dengan janji maupun ucapan. Saya tahu betul kapabilitasnya, dan bagaimana pengaruh beliau terhadap hidup saya.
Titip teteh saya ya, bang. Semoga bisa menjadi sahabat seumur hidup dan pasangan yang saling mengantarkan satu sama lain ke surga-Nya.

Minggu, 05 Januari 2014

Kitapun bertanya-tanya

Senja bertanya pada malam,
‘kapankah aku mampu menunggu tanpa ragu?
tanpa pesan kegelisahan yang membatu?’

Lalu malam menjawab,
‘kau akan selalu menungguku,
namun yakinlah, 
takdir tak pernah salah menjodohkan aku dan kamu’


Lalu aku, 
tiba-tiba saja menggelisahi kisah itu.
Seperti senja, seperti malam,
kita adalah dua hal yang kuharap menyatu.

Dalam doa, dalam kata, 
dalam setia yang bukan maya.


Akupun bertanya,
‘kapankah kau akan membuka pintu untukku,
untuk masuk tanpa perlu permisi terlebih dahulu?’

‘Kapankah kau akan meneguk segelas kopi panas,
tanpa perlu kupersilahkan dengan kaku?’

Dan kaupun akan menjawab,
jawaban sederhana yang mungkin tak mampu kuterka,

‘Akan datang saat itu,
saat dimana kau tak perlu apa-apa,
untuk mengucap selamat datang pada senja kita’

‘Akan datang saat itu,
saat dimana kita tak perlu siapa-siapa,
untuk saling merindukan cinta’

Lalu kita,
akan tersenyum sambil terus menerka-nerka,
apakah takdir memang begitu saja tercipta untuk kita?: 
untuk bersama, untuk merasakan cinta sepanjang usia


Bandung, 11 Oktober 2011 
- Tia Setiawati Priatna


***

Habis baca tumblr Umar terus kebawa ke tumblr orang yang bikin puisi baguuus.
*ini kayaknya orangnya udah terkenal soalnya udah pernah terbitin buku tapi aku-nya aja yang g tau haha. kuper!

Soulbird Rise - India Arie

I believe in open doors. I've taken off the screen. I'm ready to let the world come inside. And touch my life. I will no longer be defined by what someone else believes that I am. Now that I have dropped the weight. I am light as a feather. It's time to elevate. Soulbird rise. Lift your eyes. Spread your wings. Prepare to fly. This is the moment of your life. Go ahead and fly.

I believe in open doors. I'm outside of the box. What did not demolish me. Simply polished me. Now the clearer I can see. I know where I wanna go. I am living in the flow. And now that I have dropped the weight. I am light as a feather. It's time to elevate.

Soulbird rise. Lift your eyes. Spread your wings. And prepare to fly. This is the moment of your life. Go ahead and fly. I believe in open doors.

***

I love her lyrics as much as I love the song. 
India Arie - SongVersation 2013 album is beyond uh~mazing!

I like Just Do You and Nothing that I love more best!

Kamis, 02 Januari 2014

Bulan 1

Sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas di kepala, di tahun 2014 saya akan ada disini; kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, menjalani kehidupan (baru) sebagai dokter umum dalam program internship untuk 1 tahun ke depan. Kalau kutip istilah teman, itulah cantiknya takdir Allah. Disini sudah masuk bulan ke-2 penempatan. Suka-nya banyak, duka-nya terkadang lebih banyak. :)
Apalagi disini saya tinggal bersama 4 orang dokter baru lainnya. Semua sahabat saya. Tapi ternyata hidup bersama itu butuh lebih dari sekedar sahabat atau bukan, cocok atau tidak. Terlalu banyak potensi masalah.
Etta (ayah) saya selalu bilang, jadi muslim itu harus gembira. Tidak ada yang perlu disedihkan, buat apa. Apalagi kalau kontra-produktif. Bunda bilang, fokus saja pada hal yang prinsip, jangan terjebak dengan hal-hal kecil tidak prinsip yang justru menghambat jalan.
Akhirnya setelah fase mellow beberapa hari kebelakang, karena banyaknya hal yang harus dilakukan, terlalu banyak perasaan orang yang saya pikirkan, terlalu banyak hal-hal kecil yang saya perhatikan, ujung-ujungnya saya malah stres sendiri. Kalau sudah begitu jadinya nangis sendiri. Ditambah lagi ini pertama kalinya saya merantau lama. Bunda dan Etta jadi khawatir, apalagi saya jauh sekali dari rumah.
@fitriaisyah kemarin kirim foto dari sebuah quote: "Think of all the beauty still left around you and be happy." Dapet ini saya jadi mikir, kenapa kemarin-kemarin saya sedih ya? Kaya bukan muslim aja. Saya berpikir dan berpikir, tarik nafas sebentar, lalu tentukan saya kedepannya mau seperti apa.
Saya ingin setahun saya disini jadi tahun terbaik. Saya harus pulang jadi fulki yang lebih baik. Sudah sejauh ini tanpa ada perbaikan yang berarti pasti saya menyesal nantinya. Mau jawab apa saya nanti sama Allah tentang masa muda yang harus saya maksimalkan ini? Saya butuh do'a dan dukungan dari semuanya, semoga upaya ini diberikan kekuatan, karena sungguh, ini sulit.