Sabtu, 30 Juni 2012

anak tinggal seminggu lagi.

kalau ditanya: "jadi sekarang udah bisa ngobatin pasien anak?" jawabannya adalah: jengjreeenggg *gelindingan*... kalo kata buku-nya Atul Gawande, yang dibutuhin di dunia kedokteran bukan orang yang jenius-jenius amat. tapi orang yang bone-headed enough (secara harfiah means dungu/tolol kali ya) buat terus belajar karena ngerasa dia bodoh. dan itulah yang saya rasain. g ada yang namanya pede bisa ngadepin pasien. yang ada adalah belajar terus sampe bisa 'sesempurna' mungkin mengobati. dan kita tahu, betapa relatifnya kesempurnaan...

dulu dibilang masuk kedokteran itu kaya dikutuk. buat gak berhenti-berhenti belajar. ya iya emang. betapa cepatnya ilmu berubah. dan betapa lemahnya kita buat sombong karena punya ilmu yang g seberapa. harus g berhenti dan g puas-puas ngejar ilmu. terapi dengue tahun 2009 sama 2011 aja udah beda, padahal gap-nya cuma 2 tahun. dosis obat anti tuberkulosis aja berdasarkan jurnal udah beda dengan panduan pengobatan TB tahun 2010. gimana kita bisa berhenti belajar dengan kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan yang kaya gini? tapi kita juga tau, betapa relatifnya rasa puas...

dalam proses belajarnya banyak hal terjadi. interaksi satu sama lain. orang dateng ke poli sendirian disebut makan temen. orang terlalu belajar dibilang ambisius. tapi orang yang bikin  orang lain g bisa belajar juga disebut makan temen. beberapa juga bilang kalau terlalu belajar itu bukan ambisius, tapi keharusan. disinipun kita tahu, betapa relatifnya pandangan orang... 

belajar hidup, belajar percaya, belajar interaksi, belajar jadi pemimpin. koas ngajarin banyak hal, HANYA untuk mereka yang pintar ambil hikmah. sayangnya g semua orang pintar juga pintar ambil hikmah. sayangnya g semua dari yang pintar ambil hikmah bisa melakukan perbaikan. dan sayangnya g semua dari yang bisa melakukan perbaikan bisa konstan ngejalaninnya. betapa minoritasnya...

*baca buku Dahlan Iskan di CEOnote dengan kutipan relatif-nya dan terinspirasi dengan gaya penulisannya.

Sabtu, 23 Juni 2012

Maslamah bin Abdul Mulk suatu saat menjeguk Umar bin Abdil Aziz saat beliau hendak wafat. Maslamah menyampaikan,”Wahai Amir Mukminin, Anda melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan seorangpun sebelumnya. Anda tidak meninggalkan kepada keturunan Anda dinar dan dirham.” Dan saat itu putra Umar bin Abdul aziz berjumlah 13 orang.


Maka Umar bin Abdul Aziz meminta agar Maslamah mendatangkan putra-putra beliau untuk duduk di sekitarnya, maka Maslamah pun melakukannya.

Kemudian Umar bin Abdul Aziz menjawab pernyataan Maslamah,”Adapun pernyataanmu bahwa aku tidak meninggalkan kepada mereka dinar dan dirham, maka sesungguhnya aku tidak menghalangi hak mereka namun juga tidak memberikan kepada mereka hak orang lain. 

Sesungguhnya putraku ada dua kemungkinan, bisa ia taat kepada Allah maka Allah cukup baginya, karena Allah menjadi penolong orang-orang shalih. 

Bisa juga ia bermaksiat kepada Allah, maka aku tidak menghiraukan apa yang bakal menimpanya.” (Ihya Ulumuddin, 10/1759).


via Hidayatullah.com

Jumat, 22 Juni 2012

Ceritanya ini pagi saya dibuat gelisah gara2 tweet-nya aagym. iya aagym, bukan dokter piiip yang wajahnya mirip aagym itu, hehehe. gara2nya pagi tadi pas sy lagi scrolling timeline sy terus ada tweet aagym yg diretweet orang (ribet amat intinya sy pengen bilang kalo sy g follow aagym) yang bilang gini: "sumber gelisah yang utama adalah banyak melakukan kesia-siaan". terus bawaannya pengen mewek tea..

Langsunglah bbm bunda plus ngutip si tweet-nya aagym. bunda tanya maksudnya gimana, saya bilang "gpp bun ini jadi warning sign aja, takutnya banyak hal sia-sia tanpa sadar yang kakak lakukan. dan kayaknya mah banyak *terus pake emot nangis*"

terus bunda jawab gini: 
"Kak, lagwi atau sia-sia tidak bisa hanya dilihat dari aktivitas. Lagwi itu adalah yang harus ditinggalkan oleh ibadurrahman. tapi harus dilihat whole package-nya. nonton, baca novel haha hihi itu bisa sia-sia semua, tapi bahkan di masjid, liqa, dsb juga bisa sia sia. Yang bunda fahami, sia-sia adalah apabila seluruh aktivitas kita tidak ada nyambungnya dengan hari akhir dan yang pasti ke visi misi islam. Coba kakak lihat surat 25: 63-77."
Sekarang saya makin suka dengan kedokteran. makin tau baik dan terutama buruk-buruknya, saya justru makin suka. karena ketidaksempurnaannya ini justru menyedot atensi dan pikiran saya. kaya magnet. dan bikin saya bener-bener niat untuk kembali, ambil spesialisasi, dan jadi dosen. (semoga niat-nya g meluntur seiring waktu, amin)

kalo kata Patch Adams: "Yes, I want to be a doctor with all my heart."

sebentar lagi ujian anak (hiks). overall saya seneng di anak. saya seneng kultur pendidikan dengan ciri khas-nya yaitu diskusi ilmiah. apalagi kalo yang diskusi orang2 yang berilmu dan g asbun. kalo ngeliat konsulen2 pada diskusi bawaannya mupeng. sukaa sukaa sukaaaa~ 

fluktuasi mood ya biasalah ya. yang awalnya kita g kenapa2 tiba2 ketemu sama residen/konsulen yang mood-nya lagi g bagus terus kena semprot g jelas. makin lama saya mencoba makin memahami hal2 'biasa' kaya gini. walaupun awalnya emang pengen ngomong "NAON SIH!". tapi ya mau gimana? kita cuman bertemu dengan orang yang tidak tepat di waktu yang tidak tepat juga. 

saya semakin toleran dengan teman-teman. bagaimanapun mereka adalah yang terbaik yang saya dapet (peluk teletubbies). dan semakin ke sini semakin ada titik terang menuju arah yang lebih baik. ^^

ah, koas menyenangkan. tapi juga melelahkan. 
ini fase hidup yang bakal bener2 diinget sampai tua ntar kali ya? :) 

do'akan ujian saya ya. 

Minggu, 17 Juni 2012

terus malem ini saya galau.
karena masa lalu yang mengklaim dirinya adalah masa depan. 


sekali-kalinya saya dengan lantang bilang: saya ga-lau.
semoga hanya sementara. saya g suka.

Allah, aku ingin awal, proses, dan akhirnya Engkau Ridhoi.
Jauhkan aku dari yang menjauhkan aku dari ridho-Mu.

Sabtu, 16 Juni 2012

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ dari amal yang tidak diangkat ke langit (tidak diterima di sisi-Mu), dan dari doa yang tidak dikabulkan."

Minggu, 10 Juni 2012

Observe, record, tabulate, communicate. Use your five senses. Learn to see, learn to hear, learn to feel, learn to smell, and know that by practice alone you can become expert.


#errrrrggghhhh
People who ask our advice almost never take it. Yet we should never refuse to give it, upon request, for it often helps us to see our own way more clearly. - Brendan Francis
In this sad world of ours, sorrow comes to all... Perfect relief is not possible, except with time. You cannot now realize that you will ever feel better... And yet this is a mistake. You are sure to be happy again. - Abraham Lincoln

Sabtu, 09 Juni 2012

Cerita koas #3: Perseptor (Jiwa)

Saya sering esmoseh kalo ngeliat banyak guru yang g bener. karena menurut (kebatuan) saya, g ada yang namanya murid bodoh. yang ada adalah guru yang g bisa ngajar. akhirnya tersintesislah konsep di kepala saya bahwa: guru yang bener itu MAHAL. bener dalam artian mendidik ya. orang pinter banyak. tapi orang yang bisa jadi guru dan ngajarin itu ke orang-orang nggak. kombinasi kepintaran dan kemampuan mendidik (include ngajar) itu langka. 

orang-orang yang bisa mendidik-lah yang selalu membuat saya kagum. 

nah neh noh! begitupun di koas. residen yang pinter banyaknya minta ampun. tapi residen yang mau ngajarin mahalnya minta ampun juga. perseptor juga banyak dan (tentu) pintar-pintar. tapi yang bisa ngajarin dan mendidik langka. 

apalagi di koas. perseptor memegang pengaruh amat sangat besar dalam apa yang kita dapet di bagian itu. beneran ini mah. g ada kaitan sama belajar mandiri and so on kalo lo belajar sendiri juga sama2 aja bisanya. enggak. ini beda kaya dulu di S1. 

selain perseptor, di koas juga ada yang namanya LO. nah, LO ini adalah residen yang ditugaskan untuk membimbing kita. biasanya residen tingkat akhir. walaupun g selalu seperti itu juga. satu kelompok biasanya dapet satu atau dua LO.

saya pengen cerita tentang LO dan perseptor saya di koas. fu fu fu fu.

Psikiatri a.k.a Jiwa
Jiwa adalah stase dimana kelompok saya lagi belajar-belajarnya. tingkat rajin maksimum deh pokoknya, ahahaha. dan salah satu alasannya (yg saya yakin smp skrg) adalah perseptor kami, dr.H. 

setiap abis perseptoran semua orang pasti depresi. *ahahaha* karena kita pasti SELALU mengecewakan dr. H.  Cara ngomong beliau khas: "kalian ini gimana ahahaha sampe sekarang masih gini2 aja ahahaha g ngerti-ngerti ahaha g ada perubahan hahahaha". Beliau suka ngomong sendiri dan ngomenin diri sendiri dan ketawa sendiri. sampe pernah pas perseptoran dan dr.H bicara dan kami malah jadi menganalisis status psikiatrikus beliau. yang intinya adalah logorrhea, slurred speech, flight of ideas, incoherent, delusion of grandeur, dan asosiasi longgar. *plak plak plak*

jadi kami terombang-ambing dalam area "mengecewakan" tapi g jelas apa yang harus dibenerinnya. residen jiwa sampe bilang: "Dek, kamu perseptoran sama siapa?" | "dr. H, dok." | "HAHAHAHA, emang kamu ngerti kalo beliau ngomong? HAHAHA saya aja enggak! HAHAHA." | terus kita semua mempunyai ekspresi seperti begini --> -___________-"

Kami sampai ke satu titik dimana sepakat bahwa tujuan tertinggi kami di jiwa adalah membuat dr. H puas dan bahagia pasca perseptoran. it means kami harus terus belajar. dan ngebenerin pola berfikir. dan pas itu kejadian *dengan indikator: pasca perseptoran beliau g ngomel panjang lebar diselingi ketawa nyepet yang khas* SENENGNYA LUAR BIASA :D

justru karena dr. H yang begitu, kami jadi belajar banyak di jiwa. 
ironi yang menyenangkan :)

di jiwa ini kami juga dapet LO yang okeeee banget banget. namanya dr. L, beliau tentara angkatan darat. perempuan. orangnya sangat (pengen dicapslock) disiplin, sangat mendidik, dan sangat baik. plus sangat pintar.

keluar jiwa: puas. dan merasa total.
walaupun kemungkinan A minim seminim-minimnya e.c dr. H emang pelit nilai, tapi it doesn't matter. dan bahkan sekarang pas udah di anak kami semua suka kangen jiwa. dan etos kerja kami di jiwa.

Selasa, 05 Juni 2012

Cerita koas #2

Udah dua hari ini sakit. dan kalau sakit biasanya jadi manja setengah mati, terutama (dan hanya) pada orangtua. tapi sekarang beda, di kostan alone and only, temen2 pada sibuk, ahaha. ini nosokomial infection kayaknya. infeksi yg didapet dari rumah sakit. awalnya hari sabtu cuma sakit tenggorokan, terus ditambah jaga dua hari berturut-turut (dodol berat emang, soalnya kang irwan -which is super super baik dan ngajarin NGT suction nebu dsb- yang minta tukeran jd g enak nolak) jadinya imun tubuh drop, dan minggu malemnya langsung demam tinggi plus sesak dan flu berat. 

malem-malem kayaknya panjaaang banget.. efek g bisa tidur juga gara2 sesak kali ya. dan mulai berusaha mandiri dn tanggungjawab sama diri sendiri. g pake alesan males makan gr2 g enak makan lagi. itu sangat bocah dan sangat tidak bertanggungjawab. 

my deepest gratitude goes to Ubaididong, yg udah kaya temen kembar siam, yg udh agak2 mirip orangtua sendiri soalnya care banget pas lagi sakit gini. apalagi sampe nganterin obat pas jaga hari minggu padahal dia dewa mager. nyeeeh maaci ubaay :______)

sekarang baru beres belajar bareng kelompok. ditengah dinamika kelompok di koas dan mood yang terasa diombang-ambing di koas ini (range-nya luas, mulai dari seneng banget sampe gara2 kelompok pernah nangis di kemuning sendirian *iya norak emang*), setidaknya sangat bersyukur dapet kelompok koas yang anaknya baik-baik, g cabutan, dan mau belajar bareng. kita selalu belajar bareng malah. EVEN forensik yang orang2 pada mengernyitkan dahi "Lo belajar bareng di FORENSIIIIKK?!" ahaha. 

di tengah karakter yang beda-beda, bahkan SANGAT beda. seneng banget dengan kenyataan bahwa sejauh ini kita get along dengan sangat baik. clash dikit-dikit (banyak juga sih) ya wajarlah. ya gimana enggak, ketemu dari pagi banget sampe sore, ngerjain tugas bareng, makan bareng, kemana-mana bareng, malemnya kalo belajar kelompok ketemu lagi sampe malem banget, pisahnya cuman pas mau tidur doang pulang ke kostan. apalagi kalau jaga, ketemu terus -,- ditambah lagi saya dapet kelompok koas yang kelompok kecilnya belum dipisah. jadi dari awal koas smp sekarang bener2 sama orang-orang yang sama. -_____________-"

konflik-nya biasanya itu-itu lagi, saya udah dicap aktivis jadi dianggap sangat idealis. pernah bertengkar agak hebat sama ubay gara2 ini. bahkan ubay sempet bbm pake capslock "HIDUP PRAGMATISME" pas saya lagi ngobrol sm dr. Noorman. sama tia juga pernah, gara2nya dia mau belajarnya yang disooca-in doang (which is itu masih agak jauh dari ujian) dan saya masih mau ngedalemin kasus2 yang lain. sama yang lainnya so-so lah. di kelompok saya notabene adalah anak2 "go with the flow" macem wawan, tia, putri, ubay. ada yang idealis banget tp kadang suka kasian adalah kang jalal. soalnya beliau kadang tidak bisa menempatkan diri di realita (saya udah pernah sampein langsung ini ke dia jd in case kang jalal baca juga gpp. halo kaaang! ^^).

kang DJ pernah bilang, ada dua tipe dosen. dosen klinik (yang nongkrongnya di rshs) dan dosen pre-klinik. biasanya dosen pre-klinik lebih idealis daripada yang lebih klinisi (kecuali kalo klinisi-nya macem forensik). dosen klinik cenderung realistis, sedangkan yang pre-klinik lebih idealis. apakah karena rumah sakit itu dunia realita yang dekat dengan kenyataan masyarakat sehari-hari (which is jauh dari ideal) hingga akhirnya orang2 disana ikut tertarik jadi orang realis? saya bahkan suka ngeri (banget) sama ke-realistis-an orang2 di sini. banyak aturan dn norma yang didobrak. semua jadi halal.

bahkan menurut saya dunia kemahasiswaan (yang dulu sangat saya kritisi karena orang-orang didalamnya) jauh lebih mending daripada di koas. dulu di kemahasiswaan, orang-orang yang masuk kesana juga hasil pilihan mereka sendiri. orang2 dengan frame yang (bisa dikatakan) sama gabung dan kerja bareng. ketidakpuasan lahir dari etos kerja yang berbeda dan pendapat yang berbeda. tapi setidaknya kedua belah pihak ada proses berpikirnya. ada sparring partner yang konstruktif. di koas? kita harus bisa bergaul dengan siapa saja. kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan bekerja. 

pada saat saya dan dr.Noorman membahas kasus kenaikan BBM yg kemaren dan demo mahasiswa, ubay bilang ke saya, "yaudahlah ful, ngapain sih tau-tau yang kaya gitu? yang penting kita sekarang jadi dokter yang bener. udah itu aja". dan itu hampir semua temen di kelompok saya juga mikir begitu. 

saya kadang kelu.

sedih? banget. 
hal-hal yang menurut saya prinsip bukan ditolak karena perbedaan pendapat, tapi malah diolok-olok. hahaha. saya jadi korban bully gara2 dulu saya aktivis dan dianggap idealis. jadi kaum minoritas ditengah gelombang arus dokter muda yang realis. 

koas itu kurang sparks. sangat menyenangkan tapi tetep ada yang kosong dari aktivitas padat dan rutinitasnya. hal-hal yang saya rindukan. 

paling parah kurang lebih dua minggu kemaren. saya sampe cape gara2 becanda terus. becanda-becanda kosong. saya seneng becanda, banget. bahkan saya termasuk orang yang humoris. tapi kalau tiap hari kaya gitu terus juga g bagus. bahkan g ada yang bisa diajak diskusi serius. temen2 sekelompok saya juga isinya lawak2 semua sih (ahaha, ini bisa positif atau negatif). tp akhirnya saya sampai ke titik peak muak. ditambah lagi saya diledekin terus konsulen muda sama orang-orang (in bullying way ya, bukan compliment). gara2 di koas ini effort belajar saya lagi naik dengan lumayan signifikan (energi organisasi tumpah ke akademik kali ya sekarang). saya merasa sangat soliter di titik ini. dan ended up dengan saya nangis di kemuning sendirian (my old habbit popped up again). dan mungkin karena cape jadi lebih sensitif? (maybe)

sekarang moto saya lagi: seize the day. saya g tau koas ini akan membawa saya kemana, dengan kondisi yang sangat dinamis ini. semoga walau prosesnya up and down begini, ujungnya tetap manis. jalan keluar terowongannya belum keliatan soalnya. 

semoga Allah lapangkan.
semoga penglihatan, pendengaran, dan hati berfungsi total. agar bisa melihat, mendengar, dan memproses dalam paham...
dan lapang.