Minggu, 07 Maret 2010

Relativitas. Einstein. Ashabul Kahfi. Isra Mi'raj.

Mentoring saya di kampus jarang -hampir gak pernah- bahas tentang Al-Qur'an. Koreksi aja sih sebenernya, kenapa sebagai muslim malah justru jarang banget bahas al-Qur'an ya? Padahal Dialah yang justru 'dititipkan' oleh Nabi Muhammad SAW kepada ummatnya. Ironis. Kalau sekarang orang klaim, tuding-tuding aliran sesat adalah si ini dan si itu, ya kembalilah kepada al-Qur'an, kalau pedomannya sama harusnya gak beda kan? Ok. Tuding-tuding tanpa pengetahuan. Phew, sometimes people act like a bunch of idiot. Astaghfirullah, pardon my language. But one thing, it's true.

Ok, that's not what i want to talk about. Spill.

Waktu SMA inget banget tentang teori relativitasnya einstein, yang pokoknya simpelnya -contohnya- adalah waktu orang yang ada di bumi, sama waktu orang yang ada di luar angkasa, itu beda. Kita di bumi misalnya menghabiskan waktu 50 tahun, nah, mereka yang di luar angkasa menghabiskan waktu jauh lebih sedikit daripada itu. Ada perbedaan dimensi waktu pada dua tempat yang memiliki kecepatan objek berbeda. Sejak adanya teori relativitas einstein, dimensi waktu dan jarak tidak lagi dianggap absolut.

Semua makhluk terlingkupi oleh waktu, dan bahkan waktu pun adalah makhluk. Dan makhluk pasti punya Khaliq-nya, Pencipta-nya, Rabb-nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Logika-nya jelas, yang terjadi pada makhluk PASTI merupakan ke-Maha Pengaturan Rabb-nya. Disini saya, bagaimana, dan segala dimensi terkaitnya sudah diatur oleh yang Maha. Sekarang, siapa yang membuat kalau 1 jam itu 3600 detik, 1 menit itu 60 detik, 1 hari itu 24 jam? Ya, yang buat manusia. Repeat, manusia. si makhluk yang banyak dhaif-nya.

Saya bukan mau ngomentarin kenapa 1 hari 24 jam dan blaahh. Pada prakteknya itu dibuat untuk memudahkan. Yang saya bingungin adalah kenapa kok jadinya kita mematok waktu berdasarkan parameter kita? Waktu adalah makhluk, yang bisa diberlakukan sekehendak Penciptanya. Waktu bisa dipanjangkan, dipendekkan, dibagaimanapun oleh Yang Memilikinya.

Mungkin fenomena ini yang terkadang oleh kita dirasakan sebagai:
---kalo lagi nunggu orang, waktu terasa berjalan sangat lambat---
---kalo lagi ada tugas pagi-pagi yang belum selesai, waktu berjalan sangat cepat---
---dan banyak lagi---

al-Quran juga menyebutkan kondisi ini:

ashabul kahfi, QS. Al-Kahfi:9-26
di Al-quran, disebutkan bahwa mereka di'tidur'kan selama 309 tahun, dan yang mereka rasakan, mereka hanyalah 'tertidur' selama sehari atau setengah hari. Kenapa tidurnya saya bold? Di ayat 17-nya, disebutkan :

" dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada di tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkanNya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya"

yang kita tahu dari kisah ashabul-kahfi adalah yang diceritakan oleh Al-Qur'an, tidak disebutkan kejadian aslinya seperti apa. Di ayat 17, disebutkan mereka melihat matahari dst. Kalau tertidur, apakah mungkin melihat matahari? Atau mungkin kata tidur ini merupakan istilah implisit untuk sesuatu yang lain? Layaknya dakwah Sirriyah (sembunyi-sembunyi) Rasulullah? Wallahu'alam.
Pemaknaan Al-Qur'an haruslah berhati-hati dan secara profundal

Allah Maha Berkehendak,
apakah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi mengalami malam yang 'dipanjangkan' oleh Allah? Tidak ada yang tahu kondisinya seperti apa, yang kita harus lakukan hanyalah mengimani kisah ini, sebagai kisah yang penuh oleh muatan aqidah. yang jelas, APAPUN BISA TERJADI sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Kisah selanjutnya,
Isra Mi'raj
Saat rasulullah diperjalankan di malam hari melewati masjidil haram-baitul maqdis-sidratul muntaha-pp dengan menggunakan Buroq yang disebut-sebut memiliki kecepatan cahaya. Suatu hal yang mustahil, dan dijadikan sebagai ujian, siapakah yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Apakah memang karena Buroq-nya? Ataukah malamnya yang dipanjangkan oleh Allah? Semua hal yang berlaku di bumi dan langit berjalan sesuai kepengaturan Allah. Malam dipanjangkan, dipendekkan, adanya makhluk berkecepatan cahaya? Anything CAN happen. Waktu=Makhluk.

Nah lo, sekarang yang bingung manusianya, karena standar malamnya adalah 12 jam (atau apalah yang berlaku pada masa itu) dan jarak tempuh seperti itu DIANGGAP sangat MUSTAHIL dilalui dalam satu malam itu, maka mereka ingkar. Lupa bahwa ada YANG MAHA BERKEHENDAK.

Satu hal, standar kebenaran --- bukanlah parameter yang dibuat oleh manusia.

Nah sekarang, pertanyaannya, kok manusia masih bisa ingkar?
Menduakan Allah dengan sembahan-sembahan lainnya?

wallahu'alam bishawab.

"dan tiap-tiap jiwa akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya masing-masing"
mudah-mudahan bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar