Selasa, 04 Oktober 2011

Selesai dengan diri.

Ini mungkin saat-saat paling, hm, manage-able yang pernah ada. Kerjaan makin banyak, hal yang harus dipikirin juga makin banyak, targetan pribadi makin banyak. Semua makin numpuk. Kenapa manage-able? 

I've been through a lot masa2 dimana kayaknya pengen jungkir balik, semua serasa overwhelmed, and theres not enough time for everything. Tapi kalau begitu terus, kapan belajar-nya (bukan akademik ya), kapan berkembangnya, kapan berubah-nya? G ngerasa malu gitu ful, kalau g ada perubahan, g belajar apa-apa? Sementara makin kesini justru makin banyak bukan malah makin dikit. 

Being a grown-up means responsibility. Responsibility g selalu seiring sejalan sama capacity. Tentang ini, semua juga tau. Kadang (seringnya), tugas-pikiraneun-segala2 yang ada di pundak g peduli kapasitas udah ada atau belum. Main dateng aja g pake permisi. Mau diusir g enak, g mau, bahkan g bisa...

Untuk saya sampai bisa sampai  ke titik lapang dan senang dan menikmati semua yang ada, beneran lama sekali. Waktu untuk bisa mawas diri, bisa berhenti mengeluh, bisa tuntas semua tugas maksimal, bisa berdiri tegak, bisa lapang, bisa filter prioritas, bisa ambil keputusan2, beneran lamaaaa sekali. Sekarang juga masih proses. Terminal-nya g tau dimana. 

Anies Baswedan pernah bilang: "Sudah selesai dengan dirimu?". Konteks-nya ke  pemuda, dan ini nohok saya to the max. 

Jangan-jangan 24 jam yang ada malah habis bukan dengan saya nyelesein apa yang harus saya kerjakan, tapi majoritas habis dengan saya yang bergelut menyelesaikan 'gejolak internal' semacem perasaan merasa sendiri, perasaan overwhelmed, semua serba numpuk, kebanyakan, terbebani, dan segala hal sejenis lainnya. And trust me, semua ini bener2 mengurangi produktivitas. 

Ngerasa unmanageable, ya manage yang bener. Ngerasa overwhelmed, ya kerjain satu-satu. Ngerasa semua serba numpuk, ya susun prioritas langsung kerjain. Lupa-lupa sama kerjaan, ya pake reminder segala rupa kalau bisa. Ngerasa kebanyakan, bilang enggak sama amanah yang bisa dihandle orang lain. Ngerasa banyak salah, perbaiki. Ngerasa sendiri, ah itu perasaan kamu aja. Allah bersama hamba-hambaNya yang sabar dalam melakukan perbaikan. Ngerasa gak sanggup, ingat Allah tidak membebani diluar kesanggupan kita. 

Sekarang saya sedang masa-masanya (mencoba) menikmati dan memaksimalkan semua tugas. Carpe diem quam minimum credula postero, seize the day like theres no tomorrow. Seberat apapun, ringankan. Sesempit apapun, lapangkan. Semager apapun, langkahkan. Keluar dari zona diri, berhenti dikuasai perasaan! 

Kebayang kalau sahabat-sahabat Rasulullah jaman dulu masih berkutat dengan diri sendiri dan lupa sama tujuan. Mental-mental melankolis manja. Mungkin Islam g sampai ke kita sekarang. #ekstrim #gakmungkin 

Hey anak muda, cik malu atuh maluuu! *nampar diri sendiri*

Ayo semangaaatttt! :D
Laa takhaf, wa laa tahzan.
Innallaha ma'a shabiriin.
Semoga bukan hanya slogan.

Semangaaaattt! :)
Tebar bahagia kanan-kiri! Hehehehe..

*posting-an pengingat kalau nanti (mudah-mudahan enggak) ngerasa menye-menye lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar