Rabu, 10 Agustus 2011

Refleksi 10 Pertama Ramadhan.

Gelisah berhari-hari. Waktu itu kelas 6 SD, banyak paparan yang ngasih saya ke satu titik kesadaran. Untuk takut akan hari akhir. Gelisah ini memuncak di satu malam, yang membawa saya akhirnya di tengah malam menangis tersedu dan beranjak ke kamar orangtua. Menangis di samping tempat tidur mereka; etta sedang tidak dirumah dan bunda sedang tidur. Tangisan saya akhirnya membuat bunda bangun, dan kebingungan. Sambil terisak saya berkata, “Bunda, kaka gak mau masuk neraka bun, kaka gak mau masuk neraka. Kaka mau pake kerudung yang bener”. Waktu itu yang ngerti ya itu, g mau masuk neraka berarti harus ta’at perintah Allah, dan perintah Allah yang masih susah dikerjakan adalah pake kerudung. Itulah titik balik yang akhirnya membuat saya berjilbab.

***

10 Ramadhan 1432 H. Mulai shaum sejak umur 3 tahun dan belum pernah batal sejak itu, alhamdulillah –kecuali kalau emang lagi gak boleh shaum. Sekarang umur 20. Berarti udah shaum berapa kali ya? Apa yang seharusnya dikejar? Apa yang seharusnya sudah termiliki? Sepuluh hari ini menjadi refleksi, sejauh mana sudah melangkah. Evaluasi dari shaum ke shaum, adakah yang berubah? Meningkat atau mengalami penurunan?

Perintah shaum, dalam QS Al-Baqarah: 183, turun kepada orang-orang beriman, agar menjadi Taqwa. Perintahnya tidak berubah, dari tahun ke tahun menjalani Ramadhan targetnya hanya satu: Taqwa. Pembinaan seumur hidup. Umur 20 jadi tamparan bahwa kesempatan saya sudah banyak, dan waktu pertanggungjawaban semakin dekat.

Mengejar Taqwa tentu harus paham betul apa yang dikejar. Bukan asumsi Taqwa begini dan begitu, tapi jelas sumbernya.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Baqarah:177.

Allah, fulki masih belum bersyukur ya? :(
Masih melihat masalah, tantangan, amanah dengan kacamata manusia yang dhaif. Banyak sekali titik kesadaran yang Allah berikan di tiap masa-nya, tapi fulki masih belum bersyukur. Belum optimal, belum punya daya dobrak, belum total dalam setiap peran diri. Belum lahir amal dhahir dan amal bathin yang dapat dibanggakan sebagai efek dari pembinaan intens ini.

Hingga ketika Idul Fitri datang; yang dielu-elukan sebagai hari kemenangan, yang orang2 kebanyakan sambut sebagai hari lepas dari belenggu shaum; orientasiku lurus, penuh. Kembali kepada fitrah; bertauhid. Ridho, Allah sebagai satu-satunya sumber pengabdian. 

"Laa Ilaha Illallah. Mengetahui bahwa uluhiyah berarti hakimiyah (penguasaan) tertinggi. Mentauhidkan Allah berarti melucuti kekuasaan yang lain dan mengembalikan semuanya kepada Allah. Kekuasaan atas hati nurani, perasaan, kenyataan hidup, harta, hukum, dan jiwa raga." - Sayyid Quthb.

Allahu Rahman, Allahu Rahiim,
Ya Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar,
Semoga fulki diberi kesempatan bersyukur, atas nikmat di malam 10 Ramadhan ini. Udah ditampar bolak-balik, dijedug-jedug, dibukakan, dipermalukan, kalau masih belum berubah juga, rasa-rasanya ini sudah lebih dari keterlaluan.

Semoga bisa hidup sesuai dengan tujuan dihidupkan, bukan sebatas hidup karena bernyawa, dan bukan sebatas hidup karena bergerak tanpa orientasi atau bergerak dengan orientasi tapi tidak menyelamatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar