Jumat, 25 April 2014

Embracing Buton #2: Sekolah Guru Indonesia :)




Tidak lengkap rasanya bercerita tentang Buton tanpa kenal teman-teman baru saya ini. Perkenalan saya dengan teman-teman dari  Sekolah Guru Indonesia sangat random, dan kalau dipikir sekarang mungkin agak maksa dan g tau malu, hehe. Sebelumnya saya kasih prolog dulu ya, sebenarnya apa itu Sekolah Guru Indonesia.

Teman-teman semua mungkin sudah banyak kenal dengan Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan. Kira-kira begitulah gampangnya menjelaskan kepada awam mengenai Sekolah Guru Indonesia atau biasa disingkat SGI. Secara kelembagaan, SGI merupakan salah satu bentuk lembaga atau mungkin program yang dibentuk oleh Dompet Dhuafa. Tujuannya (yang saya tangkap tersirat maupun tersurat dari obrolan-obrolan dengan guru maupun pihak manajemen SGI) adalah bagaimana membentuk dan mendistribusikan pendidik ke pelosok Indonesia. Ketika menyebut istilah ‘pendidik’, tentu bukan sebatas guru di kelas yang bekerja sesuai jam kerjanya, akan tetapi menyangkut aspek yang lebih komprehensif: pembinaan manusia.

Para calon guru direkrut dari seluruh penjuru Indonesia, lalu diseleksi, hingga akhirnya terpilih dan terbentuk satu angkatan SGI.  Mereka kemudian dibina secara intense untuk siap menghadapi medan yang luar biasa keras di tempat tugasnya nanti. Disiapkan bukan hanya untuk menjadi guru yang berkualitas dalam proses mengajar formal, akan tetapi juga untuk menjadi individu yang mandiri, tangguh, keislamannya kuat, siap mendidik, membina, dan memiliki kemampuan leadership yang kuat. Saya suka sekali salah satu materi pelatihan mereka yang intinya tentang bagaimana guru juga merupakan seorang pemimpin. Bagaimanapun, guru adalah teladan kedua anak-anak setelah orangtua, keteladanan dasarnya adalah pengaruh, yang muncul dari jiwa kepemimpinan. Hal yang sudah langka kita temukan pada guru-guru yang mengajar di sekolah formal kini.

Saya berkenalan dengan SGI angkatan 4, tim Pulau Buton. Total ada 5 orang, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Kak Indri dari Depok, Kak Lastri dari Tasik, Kak Devi dari NTB, Kak Toto, dan Kak Ahmad alias Kak Madun. Mereka ditempatkan di 5 tempat berbeda di wilayah terpencil Pulau Buton dan sekitarnya. Jadi memang berat, karena harus siap tinggal di daerah yang jauh lebih terpencil dengan fasilitas serba kurang, dan sendirian. Saya kagum.

Jadi, Kak Toto itu temannya Deddy sejak di Bandung. Sudah sering ketemu juga alias temen satu mentoring ketika sampai di Pulau Buton. Tapi dasar sama-sama laki-laki yang bicaranya pelit irit kopet bakhil, atau mungkin yang dibicarain emang hal-hal yang penting aja, jadinya g ada interaksi lebih lanjut. Sampai Kak Indri datang ke Puskesmas Wajo untuk berobat dan saya kebetulan yang jaga Poli Umum. Saya ini kalau ketemu pasien kadang suka jd ngobrol lama, awalnya dari nanya asal darimana karena logatnya beda, terus sama-sama dari Pulau Jawa, jadi cerita panjang makin panjang daaan selanjutnya. Akhirnya Kak Indri (yang emang orangnya juga JB banget banget) bilang kalau beliau dari SGI dan temennya Kak Toto. Hari sebelumnya Deddy udh cerita tentang Kak Toto, jadi saya sok asik sok iye sok deket sok kenal dan sok-sok yang lain aja pas Kak Indri cerita. Akhirnya Kak Toto dipanggil, saya juga panggil Deddy dan jadinya JB, tuker nomor hape, dan janjian ketemu lagi kalau mereka ke Bau-Bau.

Fulki dan Kak Indri di perahu kecil menuju Pantai Koguna

Dari hanya sekedar bertanya di poli, berlanjut ke ngobrol basa-basi, ke SMS, janjian ketemu, kemudian petualangan ke Lasalimu bareng, dan akhirnya sampai ke rentetan perpisahan kepulangan mereka ber-5 bulan Maret kemarin. Sedih banget pas mereka akhirnya menuntaskan tugas disini, ihiks.

Allah Maha Baik. Ketika sedang masa sedih-sedihnya saya di Bau-Bau, fase disorientasi sesaat, saya dipertemukan dengan teman-teman yang ‘menampar’ saya perlahan. Ketika aktivitas sehari-hari dirasa sudah menjadi beban dan rumah tidak lagi jadi tempat istirahat bahkan justru jadi sumber penat dan lelah itu sendiri, saya dipertemukan dengan orang-orang yang bersungguh-sungguh dan tangguh untuk berpikir & bergerak bagaimana dirinya bisa terus menebar manfaat buat sekitar. Tidak mengeluh dengan kondisi sesulit apapun.

Bahwa apa yang saya keluhkan tidak ada apa-apanya. Bahwa masih banyak tugas menanti. Bahwa sudah bukan saatnya lagi untuk menjadi pemuda cengeng yang hanya bisa meratap.

Mungkin pernyataan Anies Baswedan dahulu yang sering saya kutip “Sudah selesaikah kamu dengan dirimu sendiri?” itu patut dikaji ulang, atau mungkin definisi selesainya yang harus sama-sama kita luruskan. Karena mungkin... kita tidak akan pernah selesai dengan diri kita sendiri. Masalah tidak akan pernah berhenti datang, dan target pembinaan diri tidak pernah selesai. Selesai lulus di satu tahap, naik kelas, muncul lagi tantangan berikutnya. Lantas kapan mau mulai berbuat kalau selalu tidak selesai dengan diri sendiri.

Nampaknya harus jadi seperti gasing, sembari dia secara makro kita lihat bergerak kesana-kemari, sebenarnya poros-nya pun bergerak, bahkan justru karena poros inti-nya yang aktif bergerak sehingga makro bisa kesana kemari.


Dengan SGI didepan patung naga Pantai Kamali kota Bau-Bau
Ini emang difoto mana-mana kampanye terus ahaha. Tapi secara kelembagaan, Dompet Dhuafa dan SGI terlepas dari PKS. Memang banyak guru yang PKS, tapi tidak semua; jadi itu bawaan personal, bukan dari lembaga. Kalau disamakan antara SGI-DD dan PKS ntar saya dimarahin sm mereka ehehe.

Terimakasih, SGI. :)

P.S: Nampaknya akan ada lagi petualangan part ke sekian dengan SGI angkatan selanjutnya hihi, aamin*
P.P.S: Lesson learned: Kalo rantau dan berada di tempat asing, jadilah anak JB. Percayalah, kadang sok iye sok deket dan g tau malu itu dibutuhkan. :p

1 komentar:

  1. seru sekali SGI.. :) terus bagi-bagi update ceritanya ya ki

    BalasHapus