Minggu, 22 Januari 2012

Rafting#2: Profesional.

Di dunia kemahasiswaan, slogan profesional sering banget dipake. Visi-misi lembaga banyak yang menjadikan profesional sebagai entah itu tujuan atau gambaran kerja yang dijanjikan.

Referensi definisi profesional? KBBI tentunya. kata KBBI, profesional artinya:
pro·fe·si·o·nal /prof├ęsional/ a 1 bersangkutan dng profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 3 mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir): pertandingan tinju --
*btw, KBBI ada revisi g ya?

nurunin definisi tadi ke ranah praktis g gampang. banget. kalau dunia kerja (dunia profesi) lebih mudah kali ya. dunia kedokteran punya SKDI, punya list kompetensi yang harus dimiliki. 'Kepandaian khusus' yg ada di KBBI diturunkan secara konkrit dan bisa kita ukur.

tapi bagaimana dengan dunia yang lain -diluar dunia kerja-?

sejak dulu saya dicekoki dengan kata ini. setiap buat kegiatan, kata profesional eksis banget di udara. apalagi di dunia kaderisasi yang butuh konsep matang dan teknis (sangat) rapi. naik jadi ketua bidang 1, buat target pencapaian dsb, kata profesional lagi2 dipake. siapa sih kita, mahasiswa, pembelajar otodidak, berani bicara tentang profesionalisme? 

***
saya akhirnya beralih ke g usah ribet-ribet mikirin definisi profesional -dunia kerja (dunia profesi) tentu beda dengan dunia mahasiswa- dan pindah dengan cari definisi profesional dari 'apa yang saya rasain saat kerja sama orang yang saya anggap profesional'.

pikiran saya tentang profesional muncul lagi gara skipper saya pas rafting kemaren. jadi rafting itu punya skipper (driver tim, yg mengarahkan perahu) yang dia duduknya di belakang.

skipper saya ini, profesional.

kenapa? dia skillful! banget! kemampuan mengendalikan perahu-nya jago abis. di saat perahu-perahu lain karam atau penumpangnya berjatuhan, perahu saya aman terkendali. hehehehe. sampai akhir. sampai melewati pengarungan 17 km. perahu saya sampai di-bully orang2 gara2 dianggap g asik, hahaha. karena sama sekali g ada yang jatuh dan jalannya termasuk mulus (selain MEMANG didukung oleh tim yang kompak, ehm *kipas-kipas* *ditimpukmahawarman*).

dan serunya lagi, perahu saya juga jadi perahu pseudo-rescue. yang mungutin (haha bahasa-ne) orang-orang yang jatuh dari perahu, ngambilin dayung yang hanyut, dsb. skipper saya juga yang tukang neriakin skipper perahu lain: "FOKUS MEDAN!" gara2 perahu lain keseringan karam atau jatohin penumpang. (tentang skipper lain dan Ua Yana -dewa peraftingan- di postingan lain ya..).

jago banget beneran. BENERAN.
latihannya dia berapa lama? yang jelas g mungkin bentar. tahunan mungkin. seceres meres dia anak didik langsung Ua Yana. kerenkerenkerenkerenpisuuun!

apa yang saya rasain? aman. 
as simple as that.

kerja dengan orang profesional membuat kita merasa aman. 
kita g kebat-kebit dan khawatir; aduh gimana ya ini beres atau nggak dan segembol kekhawatiran lainnya.
aman.

di pengarungan emang g ada kejadian2 ful? ada. kapal saya sempet nyangkut di batu, dua kali. tapi kita percaya, at the end kita bakal baik-baik aja. karena percaya, si skipper ini tau apa yang harus dikerjain, dan g hanya tau, tapi dia juga bisa. Bisa-nya bukan nyoba-nyoba, tapi karena dia terlatih.


***

kalau love is blind, terus trust is blind juga?
oooo tentu tidak. kaya kata film vampire diaries; "trust is earn, they aren't magically hand over."

dulu saya pernah ditanya, "ful, apa alasan kamu memberi amanah sama orang?" 

karena saya dianggap tricky, orang yang belum kenal pasti g tau kalau saya sering punya motif-motif tersembunyi dan ngasih lemparan-lemparan pertanyaan yang sebenernya nge-tes. dan yang semakin kesini, hal ini udah jadi otomatis -,- 

saya pengamat. ada dua orang ngobrol nih, satu nanya apa, satu jawab apa, saya ngamatin, dan akhirnya berdasarkan intuisi -semogabenar- saya menyimpulkan karakter dan pola pikir orang bersangkutan. saya menikmati menganalisis pernyataan/jawaban/geraktubuh orang. atau saya ngajak ngobrol orang, pura-pura nanya g tau *walau sering juga emang g tau beneran*, ngajak ngobrol lebih lanjut, lalu analisis. hasil analisis ini jadi basis keputusan2 saya mengenai 'memberi kepercayaan'.

jawabannya 3: 1. membelajarkan, 2. saya percaya kualitasnya, 3. trial and error. tapi se-trial and error-nya pun saya pasti background check dulu sebelumnya, u/ antisipasi lapangan. pilihan jawaban ngaruh ke sikap saya pas dia kerja. ngeri? mungkin. tapi kata radit, ini karena saya 'kaderisasi banget'. saya mah g ngerti -,-. 

percaya, buat saya, harus dengan pengetahuan. banyak orang bilang saya perfeksionis karena ini kali ya? buat saya ngasih kepercayaan dengan jawaban no.2, gak gampang. dan g banyak yang termasuk kategori ini. percaya adalah masalah krusial. 'sertifikat' yang kita kasih bahwa kita mengakui, profesionalisme (atau apalah namanya) orang yang bersangkutan.

begitupun dengan penilaian terhadap skipper saya. dari awal udah dikasih tau, kalau dia jago. lalu selama pengarungan awal saya amati, dan MEMANG jago, lantas percaya dan merasa aman. 

***

bagaimana dengan dunia kemahasiswaan?

satu hal pasti dan tidak terbantahkan tentang dunia kemahasiswaan: waktu kita terlalu sempit, kita butuh regenerasi. berada di senat selama 3 tahun saya ngerasain bahwa regenerasi itu dinamika pasti kemahasiswaan. sekeren apapun satu masa kepengurusan, kalau g berhasil regenerasi, -ekstrimnya- keberhasilannya g akan jadi apa-apa. 

se-profesional2nya dunia kemahasiswaan, di taun berikutnya orang yang menggantikan akan memulai dari awal di posisi tersebut. profesional/skillful/terlatih? mungkin, pada akhirnya. dan akhir menandakan dia akan segera terganti. begitu terus siklus-nya.

melawan arus dan kebutuhan regenerasi, kalau pake bahasa umum, sama kaya ngelawan hukum alam. 

ngerasa ada yang aneh? di satu sisi dunia kemahasiswaan core-nya adalah regenerasi yang inti prosesnya: belajar, sedangkan di sisi yang lain kata profesional kental di udara, menggambarkan seperti titik akhir pencapaian; menjadi terlatih. yang satu latihan, yang satu terlatih. yang satu proses, yang satu output proses.

yang satu coba-coba, yang satu terlatih.

mencoba profesional kali ya tepatnya? g ngerti juga. menjanjikan untuk jadi profesional bisa jadi melakukan perapihan administrasi dan teknis kegiatan. memang itu? atau menjanjikan keamanan? seperti yang saya rasakan ketika rafting sama skipper saya? kepercayaan dan rasa aman yang sama yang terjadi pada pasien2 terhadap dokternya yang profesional? 

profesional seperti apa ya yang dimaksud dalam dunia kemahasiswaan?

demand orang2 terhadap mahasiswa -terutama penggerak kemahasiswaan- untuk bisa profesional akan jadi pemicu perbaikan, tetapi  esensi profesional dalam dunia kemahasiswaan harus dimengerti penuh. terutama oleh mereka yang berputar lebih cepat (bahasanya poundra u/ tim ketua).

senengnya, dunia kemahasiswaan menjanjikan lahan belajar dan pengembangan yang tak berbatas. bingung? ya definisikan. kurang? ya kembangkan. butuh? kejar. seru! :)

***

btw, makasih Bang Roni the skipper yang bikin saya banyak mikir dan belajar. 

maaf ya kalau tulisannya jadi kemana-mana :(

aaaa ngerasa berantakaan, mau belajar nulis =___________=
oya, seru deh, file2 kemahasiswaan di laptop saya udah dipindahin. udah mau ganti fase hidup. :)
saya mau jadi dokter yang profesional!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar