Rabu, 07 Desember 2011

Toleransi (1)

Banyak orang mengagung-agungkan toleransi. Entah kenapa saya g sreg dengan pilihan kata-nya. Saya search di KBBI, hasilnya: to.le.ran.si: [n] (1) sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh --; (2) batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; (3) penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja. Ini diambil dari KBBI


Kok agak zong ya: penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja atau definisi yang penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan? err. ada kesan penurunan standar yang kental dari kata toleransi (CMIIW), akhirnya ujung2nya yang saya tangkep dari toleransi adalah ya tadi, kita nurunin standar supaya bisa match dan akhirnya 'toleran' sama kondisi penyimpangan yang terjadi. 

ini toleransi atau g punya prinsip? 

masalah bahasa g ngerti-lah, saya g jago. tapi kalau emang maknanya begitu, saya makin g sreg dan tentu g setuju. oya, bisi mikir kemana-mana, kasus toleransi ini kita kerucutin ke hal2 yang prinsipil ya.

Contoh kecil: kenapa kalau kita telat masuk kampus, dosen kasih waktu toleransi 15 menit? karena 15 menit itu dianggap sebagai penyimpangan yang masih dapat diterima oleh pihak fakultas. Ada standar yang turun disitu. Okelah ini kasus tentang terlambat, dapet toleransi apa nggak, g bakal ngaruh langsung ke status dunia-akhirat (faktor2 lain abaikan dulu ntar jd panjang bahas keluar topik). 

Banyak orang berpendapat, orang2 yang teriak2 bakar rumah tempat prostitusi itu orang2 yang g punya toleransi, imej-nya udah langsung jelek banget. Begitupun sebaliknya, orang2 yang adem-ayem dianggap punya toleransi yang tinggi. Hal ini bisa aja kejadian, tapi g bisa semua dipukul rata. 

Di lingkungan yang serba membuat jiwa gelisah resah tapi nggak geli-geli basah *MONGNAON* mengadakan perbaikan butuh cara yang elok nan cantik. Kemampuan agar bisa diterima. Jangan sampe belum apa-apa, karena sikap ekstrim kita yg g bikin orang2 simpatik, lingkungan malah berubah jadi oposisi, seharusnya jadi ladang amal dan dakwah. Gimana mau jadi rahmatan lil 'alamin -_________-"

Ada dua yang kita perjalankan; di medan laga, dan di medan jiwa. Apa yang dzohir, dan apa yang di bathin. Bukan atas nama toleransi. G ada standar yang turun. Yang menyesuaikan hanya cara, berstrategi. Tapi apa yang diperjalankan di medan jiwa, tetap, ajeg, tidak berubah.

Makanya saya sebel banget sama kata toleransi. 

Tapi sedih-nya, ini bisa dan sangat bisa jadi malah tenonenot (mulai curhat).
bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar